Speak Up Banua

Penulis Bela Islam dari Akademi Menulis Kreatif Regional Kalimantan Selatan

"Buatlah karya yang menggoncang dan bersabarlah dengan proses panjangnya."

(Founder AMK - Apu Indragiry)

Ancaman Besar di Balik PSBB



Oleh: Siti Ruaida
Penulis Pengajar di Mts. Pangeran Antasari,
Member AMK Kalsel

Banjarmasin resmi menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada tanggal 24 April 2020. Walikota menyampaikan bahwa persediaan pangan telah disiapkan, begitu pula peraturan lainnya untuk mendukung pelaksanaan PSBB. Namun demikian PSBB menyisakan banyak masalah. Disamping pelaksanaannya tidak serentak, persoalan penyiapan dana membuat pemerintah daerah berjibaku sendiri untuk menganggarkannya. Tidak salah kalau ada kekhawatiran akan bahaya besar yang mengancam di balik pelaksanaan PSBB ini. Pengangguran akan kian bertambah yang disebab oleh PHK, aktifitas ekonomi sektor riil mandeg, dan angka kemiskinan meningkat, serta munculnya kekacauan kehidupan sosial karena masalah ekonomi akan mencuat ke permukaan. Dalam hal ini, kesiapan pemerintah dipertanyakan, apakah mampu mengakomodir keadaan?


Bantuan sosial akan gencar disebarkan ketika pemberlakuan PSBB. Pemerintah daerah hingga masyarakat membagikan sembako dan kebutuhan pokok lainnya. Namun masih banyak masyarakat miskin yang belum tersentuh. Bahkan, tak jarang bantuan sosial atau bansos dari pemerintah daerah malah tak tepat sasaran. Atau bantuan antara pemerintah provinsi dan tingkat desa tumpang tindih. Akhirnya masyarakat yang berada di rumah hanya mendapat masker dan sembako. Lalu mendorong sebagian mayarakat untuk keluar rumah. Terbukti dengan banyaknya masyarakat yang ada di pinggir jalan menunggu bantuan langsung dari orang-orang yang peduli. Bahkan ada fenomena semakin banyaknya tukang becak yang menunggu belas kasihan di pinggir jalan. Hal ini menunjukkan ada masalah dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Bisa dikatakan PSBB mengalami hambatan dalam pelaksanaannya terutama kendala birokrasi, sehingga menimbulkan banyak keluhan. Terkait masalah data atau kekacauan administasi lainnya. Akhirnya bantuan sosial pemerintah yang digadang-gadang sebagai solusi, nyatanya hanya memunculkan berbagai permasalahan baru. Baik untuk pejabat daerah maupun rakyat di bawahnya. Hal ini juga menunjukkan komunikasi dan koordinasi yang tidak jelas dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Mulai dari pendataan warga yang tidak tepat, frekuensi waktu yang lama untuk sampainya bansos ke masyarakat, dan masih banyak persoalan yang terkesan tidak sepenuh hati diupayakan oleh pemerintah untuk rakyatnya.

Maka sangat disayangkan penanganan dampak Covid-19 dari pemerintah melalui PSBB yang diharapkan dapat mempercepat dan tepat sasaran, malah justru lambat dan berbelit. Tentu ini menambah kecewa rakyat yang tengah berjibaku untuk bertahan hidup di tengah pandemi yang tidak diketahui kapan berakhirnya. Lagi-lagi mereka harus menelan kekecewaan. Pada kenyataannya PSBB telah memukul perekonomian rakyat, gelombang PHK dimana-mana, yang tidak mau menambah angka pengangguran, angka kemiskinan akhirnya meningkat, lebih jauh lagi bahaya kelaparan atau kerawanan pangan akan mengancam di sepanjang tahun ke depan.

Padahal negara memiliki peran sentral dalam keberhasilan pelaksanaan program PSBB agar efektif dan meminimalkan dampak negatif. Kemampuan finansial memang mutlak harus dimiliki negara, untuk suksesnya PSBB dan ini seharusnya tidak menjadi persolan bagi daerah kita yang memiliki kekayaan alam batubara yang berlimpah. Tentu dengan catatan apabila memang dimiliki oleh negara atau daerah akan bisa menjadi sumber daya yang mampu memenuhi seluruh kehidupan rakyat banua. Bahkan daerah perlu mengorbankan rencana pembangunan yang masih bisa ditunda dalam rangka pengoptimalan PSBB kalau kekurangan anggaran. Hal ini untuk memastikan terjaminnya keberhasilan pelaksanaan PSBB dengan plus menjamin kebutuhan seluruh rakyat secara penuh. Supaya tidak terjadi kepanikan atau ketakutan karena pandemi ini. Di tengah pandemik tentu segala upaya harus dimaksimalkan termasuk mengedukasi rakyat saat terjadi wabah. Disamping mengokohkan aqidah rakyat agar  masing-masing individu bertakwa kepada Allah dan saling menolong antar sesama. Tentu hal ini akan efektif apabila ditunjang oleh aturan negara yang tegas dalam penanganan wabah, hingga persoalan rakyat  akan lebih ringan, dan mudah untuk diselesaikan. Karena keselamatan rakyat mutlak tanggung jawab negara atau pemimpin untuk membawa mereka pada kemaslahatan. Di sinilah wajibnya negara menyediakan dana untuk kemudian didistribusikan kepada rakyat. Mulai dari pusat sampai daerah dalam satu komando. Hingga terlaksananya jaminan atas pemenuhan kebutuhan pokok individu dalam masyarakat. Adapun bantuan dari lembaga swadaya masyarakat hanyalah bersifat sementara dan tidak akan mampu memenuhi semua kebutuhan rakyat. Jadi hanya negara yang punya kuasa untuk melakukannya secara maksimal dan terukur.

Pemerintah harus fokus pada wabah. Bukan malah mendorong investasi dan pariwisata, apalagi pembangunan ibukota negara baru.
Sistem informasi (data dan sebaran kasus) harus jelas dan terbuka. Perkiraan IDI dan FKM Universitas Indonesia kasus kematian mencapai 2-4 kali lipat dari laporan resmi. Begitu juga data dan sebaran ODP maupun PDP harus jelas, sehingga masyarakat lebih waspada. Jangan sampai kasus wabah ini menjadi fenomena gunung es dimana jumlah aslinya bisa mencapai 10 kali lipat yang terlaporkan. Belum lagi ada wacana dari Kementerian Perhubungan yang mengijinkan mudik alias pulang kampung dengan syarat ada keperluan yang mendesak, batasannya apa untuk menjamin keamanan semua pihak agar terhindar dari penularan Covid 19. Apalagi kalau dibolehkan penggunaan transportasi umum. Hendaknya negara berhati-hati dalam membuat sebuah kebijakan, jangan sampai mengorbankan rakyat.

Upaya pembendungan wabah (containment) harus agresif. Edukasi publik yang berkenaan dengan Covid 19 harus masif, pengadaan  tes masal (PCR, rapid test) mutlak harus tersedia, dan APD jangan sampai kosong karena sangat beresiko bisa menyebabkan tenaga kesehatan tertular Covid 19 hingga banyak yang meninggal dunia. Artinya, ini mengorbankan tenaga potensial pejuang kemanusiaan. Padahal seharusnya kita mengapresiasi dan menghargai pengorbanan mereka.

Kita tahu bahwa PSBB dijalankan mengacu pada PP No.21 tahun 2020 tentang PSBB yang diejawantahkan dalam Permenkes No.9 tahun 2020 tentang PSBB. Dimana yang mengusulkan PSBB adalah masing-masing daerah sesuai situasi wabah dan sesuai kemampuan finansial daerah, bukan lagi dari inisiatif dari pusat. Jadilah PSBB menjadi kebijakan setengah-setengah dan tidak serempak. Ada, situasi di lapangan membingungkan semua pihak. Belum lagi terkendala dana untuk penanganan wabah sangat minimalis, sebut saja dana 405,1 triliun. Ini pun masih dibagi lagi yang langsung untuk wabah sekitar 75 triliun saja. Kebijakan ini dibentengi oleh Perppu No.1 tahun 2020. Dana ini tidak bisa disentuh BPK auditnya. Nominal dana wabah ini terbilang sangat kecil dibandingkan banyak negara lain.
Maka wajar kita mempertanyakan keefektifan pelaksanaan PSBB ini.


Solusi Islam Mengatasi Wabah Penyakit

Bagi seorang muslim, mengharapkan wabah ini segera berakhir adalah sesuatu yang sudah jelas. Di sisi lain ada fakta yang tak kalah menyedihkan, yaitu tatkala seorang muslim mengaitkan wabah penyakit atau problematika kemasyarakatan lain dengan solusi Islam, masih saja ada sebagian pihak bersikap skeptis, dan meremehkan Islam serta menganggap Islam hanya sebatas agama ritual saja seperti agama lain.

Hal ini menunjukkan paham sekularisme telah terinternalisasi dalam pikiran umat Islam. Sekularisme telah memenjarakan tuntunan Islam hanya pada ranah privat dan menempatkan syiar-syiarnya di sudut-sudut masjid, serta me-lockdown aturan Islam dari kehidupan sosial kemasyarakatan.

Adapun solusi Islam dalam menangani wabah ini sebenarnya bisa dilihat dari dua sisi. Pertama dari sisi personal yaitu dengan meningkatkan tawakal, ridho terhadap qadha Allah, dan sabar dalam menghadapi musibah. Hal ini penting agar optimis hingga imunitas tubuh terjaga. Ditambah memperbanyak istighfar, doa, dan ketaatan dalam  beribadah. Dan yang tidak kalah penting menjaga kesehatan dalam rangka pencegahan penyakit dengan cara mengkonsumsi asupan makanan yang bergizi, rutin olahraga, pakai masker, cuci tangan dengan sabun, physical distancing, serta stay at home. Kemudian juga meningkatkan kepedulian pada sesama. Seperti halnya disebutkan dalam sebuah hadist, “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat", Allah senantiasa menolong hambaNya selama dia itu suka menolong saudaranya” (HR. Muslim).

Kedua, dari sisi pemimpin. Penanggulangan wabah apapun memang mutlak menjadi tanggung jawab bersama semua pihak, tapi kuncinya ada di tangan pemimpin politik.
Baik regulasi terkait berbagai urusan dan kebutuhan hidup rakyat, sebagaimana tertuang dalam hadist, “Maka seorang pemimpin adalah pengurus bagi rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang diurusinya” (HR. Muslim). Maka pengurusan wabah mutlak menjadi kewajiban sebagai bentuk tanggung jawab. Apalagi ketika terjadi karantina wilayah (lockdown), apakah total maupun parsial. Maka mutlak kebutuhan pokok rakyat ditanggung oleh negara tanpa pandang bulu, karena semua terdampak. Dalam hal ini negara melalui pemimpin (penguasa) adalah penanggung jawab utama berbagai urusan rakyatnya. Karena pemimpinlah yang memiliki semua sumber daya yang dibutuhkan untuk menangani wabah. Jadi karakter pemimpin sebagai pelayan rakyat (khadim umat) harus muncul. Dia harus tahu apa yang harus dikerjakan agar rakyat terjaga dan terpelihara dari wabah, tidak dipusingkan oleh kebutuhan pokok dan pekerjaan. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist, "Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya” (TQS. Al Maidah: 32).

Kecepatan respon seorang pemimpin, keseriusan, tidak abai, dan tidak meremehkan pandemi mutlak, dari sejak awal serius memonitor dan bertindak sesuai eskalasi yang terjadi sehingga tidak terlambat. Supaya wabah ini segera bisa dikendalikan. Terapkan protokol kesehatan terbaik dalam wabah yang meliputi prosedur deteksi dini, diagnosis, pencegahan, dan pengobatan pasien.

Kemudian memaksimalkan potensi umat dengan kerja sama erat dengan semua pihak (para pakar, tokoh masyarakat, tokoh agama, media), edukasi dan komunikasi publik yang masif dan baik sejak awal harus dipastikan. Data kasus harus bisa diakses secara terbuka, tentu dengan kemajuan teknologi informasi dijamin bisa dilaksanakan.

Dalam rangka meningkatkan kepedulian publik, dan memotivasi masyarakat untuk bertobat dari dosa dengan melakukan ketaatan kepada syariat Allah subhanahu wa ta'ala. Juga harus digalakkan dalam rangka pertaubatan massal dan Akbar. Artinya pemimpin juga memiliki visi akhirat yang kuat, dimana semua manusia akan kembali kepadaNya. Sesuai dengan janjiNya di dalam at Thalaq ayat 2, “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Sebagai muslim yang taat hanya Allah tempat kita untuk mengembalikan segala persoalan, bahwa pandemi ini adalah qadha Allah. Dan kita wajib bertawakal untuk keluar dari pandemi ini dengan segenap kemampuan termasuk dengan mengerahkan kemampuan para ahli untuk melakukan riset dan penelitian dalam rangka menyelesaikan pandemi ini. Kehadiran Islam agar terbebas dari pandemi memang mutlak harus hadir, setelah kelalaian kita dengan berselingkuh dan menjauhi hukum Allah. Bahkan dunia sudah merasakan kegagalan masal dalam menangani pandemi dengan kepintaran dan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki. Ini sekaligus bukti kelemahan manusia hingga harus kembali pada Sang Pemilik alam semesta, agar keberkahan dapat dirasakan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al Araf(7):96. "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi". Allahu A'lam. [SP]

Solusi Islam di Masa Pandemi



Oleh: Mulyaningsih, S. Pt
(Pemerhati masalah anak, remaja, dan keluarga)

Dalam menghadapin pandemi Covid-19 di Kabupaten Tapin, Bupati HM Arifin Arpan mengajak para pengusaha dan para dermawan di Tapin ikut berperan dalam penanggulangan dan pencegahan virus Corona tersebut.

Menanggapi ajakan tersebut, H Nova pengusaha asal Desa Tatakan, Kecamatan Tapin Selatan langsung bergerak cepat untuk berpartisipasi dalam penanganan wabah virus COVID-19 ini. Penyerahan berupa barang yaitu kasur busa 28 buah, bantal 28 buah, sarung kasur 28 buah, selimut 30 buah dan diterima langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Tapin, Alfian Yusuf.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Tapin Alfian Yusuf mewakili Bupati Tapin mengucapkan terima kasih kepada pengusaha yang telah peduli memberikan sumbangan kepada kami untuk kelancaran rumah ruang isolasi bagi pasien isolasi di Tapin. Ditambahkannya, tentu bantuan beeupa apapun dari para darmawan sangat bermanfaat dalam penanganan dan penanggulangan Covid-19 di Bumi Ruhuy Rahayu. (kalsel.antaranews.com, 21/04/2020)

Amatlah ironis dan sedih melihat kondisi di negeri ini. Penguasa terkesan abai dalam hal penanganan kasus pandemi Corona ini. Belum lagi kebijakan yang dikeluarkan justru tidak singkron atau tidak membela kepentingan rakyat yang notabenenya adalah tanggung jawabnya. Ujung-ujungnya, kembali rakyat yang diminta untuk saling membantu untuk menghadapi Corona. Itulah gembar-gembor yang selalu disuaraman oleh pemerintah. Padahal sejatihya, semua itu adalah tanggung jawab pemerintah (penguasa) untuk melakukannperiayahan terhadap rakyatnya.

Tak lepas, semua itu disebabkan mengakarnya kapitalis yang di bumbui oleh sekularisme dalam benak para penguasa negeri. Mereka terkesan setengah hati alias abak terhadap situasi dan kondisi terkait dengan  orang-orang yang dipimpinnya. Berikut nyawa fakyat bukan persolan utama yang harus diperhatkkan olehnya. Innalillahi, begitu buruknya riayah yang dilakukan olen para penguasa negeri ini.

 Jika kita telusuri, pemerintah mempunyai dana yang besar untuk membangun IKN (Ibu Kota Negara). Namun pada faktanya, untuk penyediaan alat-alat pengaman bagi para media saja mengandalkan sumbangan alias infak dari rakyatnya sendiri. Sungguh, ini adalah sebuah kelalaian secara nyata.

Solusi Islam

Hal ini tergambar dari hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, ia berkata pada suatu malam di waktu sahur saya mendengar ia (Khalifah Umar) berdoa “Ya Allah, janganlah Kau binasakan Umat Muhammad saat aku menjadi pemimpin mereka”.

Hadist di atas benar-benar membuat kita takjub terhadap sosok pemimpin. Ia begitunpeduli can bertanggung jawab terhadap orang-orangbyanb dipimpinnya. Sebagaimana yang pernah tercatat kegemilangannya ketika Islam diterapkan dalam kehidupan manusia. Adalah sebuah institusi yang mampu menghadirkan perisai bagi ummat. Khilafah, itulah institusi yang mampu menghadirkan sosok pemimpin yang bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya tanpa tebang pilih. Baik sedang dilanda sebuah musibah ataupun tidak. Karena pemimpin yang terbentuk akan menjunjung tinggi keimanan dan ketaqwaannya sebagai bekal ia memimpin. Aqidah Islam menjadi sandaran dan tempat bertanya ketika ada permasalahan yang muncul. Begitpula dengan Skala prioritas, menjadi hal utama dalam sistem ini, apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Ketika ada wabah pandemi seperti  sekarang ini, maka negara harus bersikap cepat, tepat, tanggap, dan serius. Tentunya sembari terus meningkatkan keimanan rakyatnya, bahwa ini adalah qadho Allah Swt. Namun ada hal-hal yang memang bisa dioptimalkan. Bukan malah memberikan tanggung jawab tersebut kepada rakyat. Bahwa rakyat disuruh bergotong royong untuk mengumpulkan dana. Hal ini sangat tidak masuk akal.

Dalam sejarah penerapan Islam pernah merasakan hal yang sama. Merasakan pandemi di saat kepemimpinan Khalifah Umar ra. Sebagaimana diceritakan dalam buku The Great Leader of Umar bin Khattab, diceritakan bahwa Khalifah Umar ra. langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan.

Namun, ketika melihat kondisi keuangan Baitul Mal tidak mencukupi maka beliau segera mengirim surat untuk meminta bantuan kepada para gubernur yang berada di wilayah atau daerah bagian kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu memberi bantuan. Berbagai kiriman bantuan pun akhirnya datang dari berbagai penjuru wilayah Khilafah, seperti Mesir, Syam, Irak dan Persia.

Salah satunya dari Gubernur Mesir, Amru bin al-Ash mengirim seribu unta yang membawa tepung melalui jalan darat dan mengirim dua puluh perahu yang membawa tepung dan minyak melalui jalur laut serta mengirim lima ribu pakaian kepada Khalifah Umar.


Namun, hal yang begitu sulit untuk melakukan hal tersebut. Karena pada faktanya negeri-negeri Muslim saat ini terpisah oleh masalah teritorial  belaka. Kita tersibuk kan  oleh perbatasan wilayah yang membuat jarak pemisah nyata diantara kaum Muslim. Ditambah lagi dengan sistem yang diterapkan  sekarang adalah kapitalis berbalut sekuler akhirnya membuat masalah-masalah yang ada sekarang menjadi lebih sukar untuk diselesaikan. Sistem sekarang tentunya tidak benar-benar untuk meriayah orang-orang yang dipimpinnya kemudian kepentingan rakyat di bawah kepentingan para kapitalis (Borjuis).

Dalam sistem ekonomi Islam, maka negara  akan mempunyai otoritas terhadap berbagai sumber kekayaan alam untuk mengurus dan membagikan kepada rakyatnya. Negara akan menerapkan ketetapan Allah Swt. bahwa kekayaan alam yang ada milik umat. Dan berkewajiban untuk mengelola serta manfaat akan dikembalikan kepada ummat.

Dari sanalah negara akhirnya mampu untuk memberikan pelayanan terbaik kepada ummat. Bahkan mampu menyelesaikan persoalan seperti sekarang ini. Negara mampu memasok berbagai kebutuhan yang diperlukan baik bagi para medis ataupun rakyat.

Pemimpin dalam Islam sangat sadar akan tanggung jawabnya dan bahwasanya segala kebijakan yang diambilnya akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Pemimpin seperti Khalifah Umar ra. hanya dapat diperoleh dalam sistem yang bersandar pada ketaatan pada Allah. Begitu rindunya akan sebuah sistem yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan hidup manusia, yaitu khilafah. Nyawa rakyat menjadi hal utama yang diperhatikan. Semoga kita akan merasakannya. Tentunya seluruh kaum muslim harus berjuang agar sistem tersebut segera hadir di tengah-tengah kita. Wallahu a'lam [SP]

Ramadan Ada, Taat dan Keimanan Bersama



Oleh: Mulyaningsih, S. Pt
Pemerhati Masalah Anak, Remaja, dan Keluarga
Member Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa (TQS al-Baqarah: 183).

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Swt. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw. keluarga, para sahabat, serta pengikut Beliau yang sampai saat ini menjunjung tinggi sunnah.

Alhamdulillah, Ramadan telah menemui kita. Bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh kaum Muslim sedunia. Berbagai persiapan tentunya dilakukan secara maksimal. Mulai dari meningkatkan ibadah mahdoh, membantu sesama, amar ma'ruf lebih utama, dan aktivitas lainnya. Tentunya semua dijalankan agar ingin mendapat sisi pahala yang Allah akan berikan. Berharap juga agar berdampak pada 11 bulan kemudian. Karena sejatinya bulan Ramadan ini hanyalah pemanasan untuk bulan-bulan berikutnya.

Ramadan erat hubungannya dengan satu ibadah, yaitu puasa. Sebagaimana yang tercantum dalam al Qur'an (al Baqarah: 183). Dari terjemahan surat al-Baqarah ayat 183 didapatkan bahwa Allah Swt. memberikan perintah kepada orang-orang yang beriman agar mereka melakukan ibadah puasa. Ibadah tersebut akan membentuk mereka menjadi insan yang bertaqwa.

Terlebih lagi ketika masa pandemi seperti sekarang ini, maka momentum Ramadan seharusnya dijadikan sebagai titik tolak kita untuk bertaubat kepada Allah Swt. dan benar-benar menjalankan seluruh perintahNya tanpa tebang pilih. Tentunya agar taat itu menjadi nyata adanya dan keimanan benar-benar akan menghujam dalam diri kaum Muslim.

Taat individu saja tak cukup, karena sejatinya ada perintah Allah untuk amar ma'ruf nahi munkar kepada yang lain. Hingga taat bersama harus dilakukan juga. Masyarakat menjadi salah satu pilar agar mampu mengokohkan keimanan kaum Muslim. Saling mengingatkan dan menasehati menjadi gambaran nyata. Tak lupa harus ada pilar negara sebagai pengokohnya. Karena jika tidak ada peran negara maka akan sulit untuk membentuk keimanan dan ketaqwaan individu.

Negara menjadi penopang utama guna memperkokoh keimanan kaum muslim. Dengan tangannya maka negara mampu melakukan hal-hal yang dipandang mampu menertibkan serta mendukung suasana di bulan suci ini. Sebagai contohnya adalah, membuat aturan yang tegas terhadap sikap seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang Muslim dalam menghadapi masa pandemi ini. Dalam hal ini negara harus memberikan kebijakan yang tepat, cepat, dan efisien. Tentunya tetap harus meninggikan aqidah umat. Menyadarkan kepada umat bahwa semua ini adalah qadha Allah. Sehingga akan menambah keimanan secara nyata. Dan tak lupa mengajak agar kaum Muslim mau kembali kepada syariat Islam agar semua persoalan yang ada dapat diatasi dengan sempurna dan tepat. Dengan menerapkan syariat Allah maka berkah akan keluar dari bumi dan turun dari langit. Dengan seizin-Nya pula wabah pandemi ini akan berakhir. Karena yang berkuasa dan mempunyai kemampuan hanya milik Allah Swt. semata bukan yang lain.

Semoga di bulan Ramadan tahun ini rasa taqwa selalu melekat pada diri-diri muslim. Dan semoga kita selalu mendapatkan rahmat dari Allah sebagai wujud dari keimanan dan ketaqwaan kita padaNYa. Tentulah kita harus melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Selagi ajal belum menghampiri kita maka usaha optimal sangat diperlukan. Isilah bulan suci ini dengan aktivitas-aktivitas yang akan membuat taqwa serta iman kita menjulang tinggi. Agar menjadi bekal di bulan-bulan berikutnya. Dan berusaha menjadi umat yang terbaik, menggunakan Islam sebagai satu-satunya aturan yang wajib dilaksanakan. Marhaban Yaa Ramadan. Wallahu Alam. [ ]


Menyambut Ramadhan di Tengah Wabah


             Oleh: Hafizahtul Dwi Maulida

Indonesia kini hampir dua bulan terserang virus corona yang penyebarannya sangatlah cepat dengan angka 6.760 kasus positif COVID-19 di Indonesia. Dari jumlah total itu ada 8,72% yang telah meninggal dunia. Hal itu diumumkan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, lewat siaran langsung kanal YouTube BNPB Indonesia, news Time Senin (20/4/2020).

Melihat data kasus Corona ini yang setiap harinya selalu meningkat, maka pemerintah telah menetapkan langkah untuk memutus mata rantai penyebarannya dengan menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Sebelumnya pemerintah berencana menetapkan kondisi ini sebagai darurat kesehatan masyarakat, karantina wilayah, tapi akhirnya pilihan jatuh pada PSBB walaupun ada suara untuk lockdwon.

Penanganan pemerintah dalam kasus Corona ini dinilai lamban oleh beberapa orang. Yaya Nurhidayati (Penggerak Komunitas Indonesia Bergerak) menilai pemerintah lambat dalam menangani pandemik virus Corona atau Covid-19 yang melanda Indonesia. Pemerintah tidak tegas dari awal, sehingga masyarakat tidak memiliki sense of crisis dalam menghadapi ini, sehingga tidak melakukan tindakan mandiri. Pemerintah tidak aktif dalam menanggapi ini. Kasus pertama yang terjadi di Indonesia itu karena proaktif, bukan karena upaya pemerintah" ucap Yaya dalam diskusi Populi Center, liputan 6 com, Jakarta Sabtu (21/3/2020).

Selain itu juga ada komentar dari  anggota Komisi IX FPR, Fraksi Gerindra Sri Mellyana juga menilai pemerintah memang sudah terlihat melakukan tindakan dalam menangani virus Corona. Namun, Sri mengatakan pemerintah dinilai masih terlalu santai. "Sudah melakukan tapi lambat. Komisi IX sudah rapat intesif bergerak untuk isu-isu Corona. Banyak pihak yang katakan kita panik berlebihan, tidak panik berlebihan tapi santai berlebihan sampai ini terjadi menurut saya," ucap Sri.Sri mengatakan seharusnya waktu virus ini melanda Wuhan, pemerintah harus sudah bersiap diri dengan membekali masyarakat dengan informasi-informasi pencegahan yang benar. "Waktu kita menonton wuhan kita seharusnya mempersiapkan diri. Ini yang kami rasakan pemerintah kurang reponsif. Malah pendapat yang menenangkan sesaat, dan malah banyak info yang salah, seharusnya informasi virus ini disampaikan dengan benar," kata Sri.

Adanya tindakan pemerintah yang plin plan dalam menyatakan status Corona disertai sikap yang lamban tadi, tak di pungkiri bahwa kasus pandemi ini sampai memasuki bulan Ramadan. Tentunya sesuai dengan protokol pemerintah untuk mencegah penularan ini, maka semua aktivitas dilakukan di dalam rumah tidak terkecuali nanti pada saat bulan Ramadan .

Sebagai seorang muslim tentunya kita bergembira menyambut bulan Ramadan yang penuh mulia ini. Sesuai dengan hadist yang sangat terkenal dan banyak dikutip para khatib ketika kultum pada awal-awal Ramadan. Hadist itu berbunyi:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ
”Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أتاكم رمضان شهر مبارك. فرض الله عز وجل عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب السماء، وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغلّ فيه مردة الشياطين، لله فيه ليلة خير من ألف شهر، من حرم خيرها فقد حرم
Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa dibulan ini. Dibulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, dibulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala dimalam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)


Dari hadist tersebut maka kaum Muslim harus bergembira menyambut bulan Ramadan di tengah wabah ini dan tentunya akan berbeda dengan tahun sebelumnya. Ramadan kali ini kaum Muslim akan melaksanakan aktivitas ibadahnya di rumah. Ada beberapa yang harus disiapkan oleh kaum Muslim dalam menyambut bulan suci ini, seperti:
1. Menerima qadha dari Allah Swt. seraya terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.
2. Berdoa kepada Allah Swt. agar wabah Corona ini berakhir.
3. Menyambutnya bulan Ramadan dengan gembira. Misalnya melakukan tarhib Ramadan secara online.
4. Taubat atas dosa-dosa yang dilakukan baik sengaja atau tidak sengaja.
5. Saling meminta maaf kepada saudara semuslim.

Selain itu juga tetap optimal dalam melaksanakn ibadah puasa walaupun di rumah bersama keluarga dengan tadarusan bersama, melakukan amalan-amalan sunah, salat berjamaah, dan tarawih berjamaah, serta ersedekah.

Adapun hikmah yang bisa kita ambil pada saat menjalani Ramadan di tengah wabah Corona ini sesuai dengan hadist, Nabi saw. menegaskan seorang Muslim tidak akan merugi dalam situasi apa pun. Sebab, keimananya akan menjadikannya sebagai seorang hamba yang bersyukur, ketika mendapatkan kemudahan dan juga bersabar ketika mendapatkan kesulitan dalam hidupnya.

Dari Shuhaib, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam bersabda: "Perkara orang mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin; bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya, dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Bukhari Muslim).

Isnan Ansory dalam bukunya Fiqih Menghadapi Wabah Penyakit  mengatakan, Allah Swt. juga menjanjikan keutamaan yang besar atas mereka yang senantiasa bersabar dalam menghadapi segala ujian (bala) dari Allah Swt.

Keluarga dan Islam


          
                            Oleh: Mulyaningsih, S.Pt
          Pemerhati masalah anak dan keluarga

Angka pernikahan usia dini di Kalimantan Selatan masih sangat tinggi, untuk menurunkannya dalam rangka menciptakan generasi yang berkualitas, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar kuliah umum di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), yang tidak hanya diikuti mahasiswa setempat tetapi lintas kampus seperti UIN Antasari serta beberapa PTS di Banjarmasin.

Kuliah umum yang disampaikan Inspektur Utama BKKBN, Agus Sukiswo, menyasar mahasiswa sebagai remaja yang akan memasuki usia produktif untuk menikah, diantaranya dengan promosi GenRe (Generasi Berencana), Senin (16/3/20).

“Kita menyasar generasi milenial. Kita berikan pemahaman terkait kesehatan reproduksi termasuk penikahan dini agar tidak terjadi lagi,’’ ucap Inspektur Utama BKKBN, Agus Sukiswo.

Melalui rebranding logo BKKBN yang telah diluncurkan awal tahun lalu, kaum milenial akan dilibatkan dalam hal memberikan masukan terkait target yang ingin dicapai. Tiga puluh lima persen, saat ini diisi oleh para generasi milenial. Lewat rebranding dan sosialisasi langsung kepada para mahasiswa sebagai bagian dari generasi bangsa, BKKBN optimistis dapat menekan angka stunting dan pernikahan dini di Kalsel. Tantangan dalam menghadapi bonus demografi yang diprediksi pada 2030, BKKBN mencoba untuk membentuk para mahasiswa sebagai remaja agar siap dalam merencanakan kehidupan berkeluarga.

Sementara, Plt Kepala BKKBN Kalsel, H Ramlan mengakui di Kalsel menikah di usia muda masih tinggi. Jadi penting untuk kaum milenial menyiapkan kesiapanannya dalam menikah nanti. Para mahasiswa sebagai generasi pemegang tokat estafet untuk menggantikan generasi pendahulunya, harus benar-benar menyiapkan diri sebelum memasuki perkawinan. Dikatakan juga, usia yang ideal atau usia matang memasuki jenjang pernikahan adalah 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria. “Dengan usia yang matang memasuki jenjang pernikahan, diharapkan akan menghasilkan generasi lebih berkualitas di masa yang akan datang,’’ tutup H Ramlan. (kalimantanpost.com, 19/03/2020)

Berkeluarga, sebuah kata yang mudah untuk diucapkan namun pada faktanya amatlah sulit untuk diaplikasikan. Berbagai tantangan, hambatan, ujian, dan cobaan tentunya akan menerpa bangunan keluarga. Mulai dari perbedaan pandangan, mencari pekerjaan, kurangnya ilmu terkait keluarga, dan masih banhak yang lain. Termasuk pula terkait dengan pernikahan dini yang diduga menjadi biang masalah angka stunting dan generasi yang bermasalah.
Sebenarnya, apakah benar pernikahan dini sebagak biang dari mundurnya generasi dan menciptakan angka stuntjng yang tinggi? Ataukah ada penyebab lain yang menjadi akar masalah sebenarnya. Dan semua belum menyakini akan hal tersebut.

Melihat dari sisi pernikahan, bahwa itu adalah aktivitas yang sakral dan penuh nilai ibadah. Bahkan kaum Muslim tentunya sepakat dan paham benar bahwa menikah adalah bagian dari ibadah, yaitu menyempurnakan setengah agama. Tak ada yabg salah ketika sepasang pemuda ingin melangsungkan pernikahan. Hanya saja ada aturan yang mesti mereka ketahui bersama. Hal ini terkadang luput dari pemahaman masyarakat lada umumnya.

Untuk menikah setidaknya ada syarat yang harus dipenuhi oleh kedua muda-mudi. Hal yang pertama adalah keduanya sudah baligh. Terkadang di masyarakat memandang bahwa baligh ini terkait dengan umur. Padahal dalam Islam, baligh ini berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Namun ada ciri pasti pada wanita dan pria. Mungkin semua sudah tahu mengenai ciri tersebut. Wanita dikatakan baligh jkka sudah menstruasi alias datang bulan. Dan pria dikatakan baligh jika sudah mimpi basah.

Akan tetapi ada hal lain yang mesti harus ditekankan kepada kedua belah pihak bahwa makna baligh tak sekedar ciri tersebut di atas. Namun, ada tambahan lain bahwa seseorang dikatakan baligh berarti dia sudah memikul sendiri kewajiban untuk selalu terikat terhadap hukum Allah. Hal ini yang kadang belum dimengerti oleh semuanya. Ketika baligh berarti dia mampu mengambil segala sesuatunya hanya berasal dari Islam saja bukan yang lain. Lantas mengapa remaja sekarang tak mengetahui akan hal itu? Serangan pemahaman di luar Islam yang membuat akhirnya mereka mengambil pandangan  dari luar Islam.

Kapitalis sekuler yang dibalut oleh liberalisme akhirnya membuyarkan pemahaman Islam pada diri-diri pemuda saat ini. Mereka lebih menyukai pemahaman tersebut ketimbang Islam. Gaya hidup hedonis yang saat ini mengakar kuat juga menimbulkan masalah yang nyata.

Tentunya semua akan berefek pada pemahaman mereka. Begitu pula ketika mereka ingin membangun rumah tangga. Konsep yang mereka jalankan jauh dari Islam, sehingga banguna  yang dibentuk tak kuat terhadap terpaan yang ada.

Akar Masalah dan Solusi
Persoalan rumah tangga yang ada terjadi karena sistem yang sekarang berlaku jauh dari Islam. Sekulerisme yang berteman dengan liberalisme membuat keluarga seolah-olah berada di ujung tanduk.

Kelemahan mengenai konsep keluarga dan rumah tangga sudah lama terjadi, bahkan sebelum bingkai rumah tangga terbentuk. Tak sedikit dari para remaja yang senang melakukan aktivitas-aktivitas seperti pacaran dan pergaulan bebas. Mereka bahkan tak malu-malu ketika melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Padahal sejatinya mereka belum sah menjadi pasangan hidup.

Ketika mereka melangsungkan akad nikah, ini semata-mata untuk menyelamatkan kehormatan saja bukan atas nama ibadah. Maka muncul rasa kebosanan dan keinginan untuk tidak terikat (merasa bebas). Belum lagi buah dari pacaran, gonta-ganti pasangan menjadi hal yang biasa dilakukan. Tentulah semua aktivitas tersebut menimbulkan masalah baru, sebut saja trend selingkuh. Ketika sudah bosan dengan pasangan sah, akhirnya mereka melakukan hubungan lagi dengan mantan mereka. Belum lagi masalah mendidik anak, memenuhi kebutuhan hidupnya serta mendidiknya menjadi suatu masalah di para ibu. Sehingga muncul cabang masalah lagi yaitu sunting di kalangan anak-anak.

Untuk mengatasi seluruh hal tersebut, tentu saja tidak mudah dan memerlukan solusi menyeluruh. Bukan hanya saat terjadinya pernikahan sebagai gerbang pembentukan keluarga, namun jauh sebelum itu. Perlu usaha pembentukan pemahaman yang benar mengenai konsep keluarga. Dasarnya adalah kembali kepada Islam sebagai pedoman hidup seluruh manusia, termasuk dalam hal membangun keluarga tangguh.

Selain itu, permasalahan keluarga di negeri ini tak cukup diserahkan hanya pada individu-individu semata, perlu peranan negara di dalamnya. Negara berkewajiban untuk menanamkan akidah Islam sebagai pondasi dan tuntunan untuk membangun biduk rumah tangga muslim. Tak cukup dengan kursus singkat pra nikah, namun harus ada pemahaman yang tertancap kuat dalam diri-diri kaum muslim. Hal ini bisa diterapkan dalam dunia pendidikan, melalui kurikulum yang diajarkan sekolah-sekolah. Singkatnya, ketika kurikulum sekolah berdasar pada akidah Islam maka akan mencetak generasi yang bertakwa dan mempunyai pondasi iman yang kokoh. Mereka paham benar bahwa hidup ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah saja. Begitupula dengan pernikahan, mereka akan memegangnya dengan erat serta menyakini bahwa hal tersebut adalah suatu ibadah. Sehingga tidak menjadikannya sebagai hal yang main-main atau ajang uji coba.

Disisi yang lain, negara harus mampu melawan nilai-nilai di luar Islam yang akan merusak keutuhan rumah tangga. Pengaruh dari gaya hidup bebas, hedonisme, sekularisme, materialistik dan budaya konsumtif perlu dibuang jauh-jauh. Kemudian negara harus menjamin seluas-luasnya lapangan pekerjaan bagi para calon suami. Agar para suami-suami mendapatkan pekerjaan dengan mudah serta penghasilan yang memadai. Dengan begitu maka dari sisi ekonominya akan kuat.


Akhirnya, keharmonisan biduk rumah tangga perlu peran dari semua pihak. Yaitu ketakwaan dari individu, masyarakat serta negara. Dengan kata lain harus menjadikan aturan Allah sebagai pondasi untuk semuanya. Ketakwaan individu dapat dibentuk dari pembinaan ketakwaan dalam keluarga. Keluarga dapat membentuk ketakwaan individu jika mempunyai ketahanan yang tangguh. Hal itu hanya bisa terwujud jika negara menjamin serta memfasilitasi semua kebutuhan dasarnya. Walhasil, negara perlu perombakan dari segala lini dan perlu mengganti sistem yang ada sekarang. Tentunya dengan menerapkan sistem Islam. Hanya dengan sistem Islam keluarga akan mempunyai pondasi yang kokoh dan akan melahirkan generasi yang tangguh.

Wallahu a'lam bishawab



Back To Top