Oleh: Hafizahtul Dwi Maulida
Indonesia kini hampir dua bulan terserang virus corona yang penyebarannya sangatlah cepat dengan angka 6.760 kasus positif COVID-19 di Indonesia. Dari jumlah total itu ada 8,72% yang telah meninggal dunia. Hal itu diumumkan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, lewat siaran langsung kanal YouTube BNPB Indonesia, news Time Senin (20/4/2020).
Melihat data kasus Corona ini yang setiap harinya selalu meningkat, maka pemerintah telah menetapkan langkah untuk memutus mata rantai penyebarannya dengan menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Sebelumnya pemerintah berencana menetapkan kondisi ini sebagai darurat kesehatan masyarakat, karantina wilayah, tapi akhirnya pilihan jatuh pada PSBB walaupun ada suara untuk lockdwon.
Penanganan pemerintah dalam kasus Corona ini dinilai lamban oleh beberapa orang. Yaya Nurhidayati (Penggerak Komunitas Indonesia Bergerak) menilai pemerintah lambat dalam menangani pandemik virus Corona atau Covid-19 yang melanda Indonesia. Pemerintah tidak tegas dari awal, sehingga masyarakat tidak memiliki sense of crisis dalam menghadapi ini, sehingga tidak melakukan tindakan mandiri. Pemerintah tidak aktif dalam menanggapi ini. Kasus pertama yang terjadi di Indonesia itu karena proaktif, bukan karena upaya pemerintah" ucap Yaya dalam diskusi Populi Center, liputan 6 com, Jakarta Sabtu (21/3/2020).
Selain itu juga ada komentar dari anggota Komisi IX FPR, Fraksi Gerindra Sri Mellyana juga menilai pemerintah memang sudah terlihat melakukan tindakan dalam menangani virus Corona. Namun, Sri mengatakan pemerintah dinilai masih terlalu santai. "Sudah melakukan tapi lambat. Komisi IX sudah rapat intesif bergerak untuk isu-isu Corona. Banyak pihak yang katakan kita panik berlebihan, tidak panik berlebihan tapi santai berlebihan sampai ini terjadi menurut saya," ucap Sri.Sri mengatakan seharusnya waktu virus ini melanda Wuhan, pemerintah harus sudah bersiap diri dengan membekali masyarakat dengan informasi-informasi pencegahan yang benar. "Waktu kita menonton wuhan kita seharusnya mempersiapkan diri. Ini yang kami rasakan pemerintah kurang reponsif. Malah pendapat yang menenangkan sesaat, dan malah banyak info yang salah, seharusnya informasi virus ini disampaikan dengan benar," kata Sri.
Adanya tindakan pemerintah yang plin plan dalam menyatakan status Corona disertai sikap yang lamban tadi, tak di pungkiri bahwa kasus pandemi ini sampai memasuki bulan Ramadan. Tentunya sesuai dengan protokol pemerintah untuk mencegah penularan ini, maka semua aktivitas dilakukan di dalam rumah tidak terkecuali nanti pada saat bulan Ramadan .
Sebagai seorang muslim tentunya kita bergembira menyambut bulan Ramadan yang penuh mulia ini. Sesuai dengan hadist yang sangat terkenal dan banyak dikutip para khatib ketika kultum pada awal-awal Ramadan. Hadist itu berbunyi:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ
”Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أتاكم رمضان شهر مبارك. فرض الله عز وجل عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب السماء، وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغلّ فيه مردة الشياطين، لله فيه ليلة خير من ألف شهر، من حرم خيرها فقد حرم
Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa dibulan ini. Dibulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, dibulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala dimalam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
Dari hadist tersebut maka kaum Muslim harus bergembira menyambut bulan Ramadan di tengah wabah ini dan tentunya akan berbeda dengan tahun sebelumnya. Ramadan kali ini kaum Muslim akan melaksanakan aktivitas ibadahnya di rumah. Ada beberapa yang harus disiapkan oleh kaum Muslim dalam menyambut bulan suci ini, seperti:
1. Menerima qadha dari Allah Swt. seraya terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.
2. Berdoa kepada Allah Swt. agar wabah Corona ini berakhir.
3. Menyambutnya bulan Ramadan dengan gembira. Misalnya melakukan tarhib Ramadan secara online.
4. Taubat atas dosa-dosa yang dilakukan baik sengaja atau tidak sengaja.
5. Saling meminta maaf kepada saudara semuslim.
Selain itu juga tetap optimal dalam melaksanakn ibadah puasa walaupun di rumah bersama keluarga dengan tadarusan bersama, melakukan amalan-amalan sunah, salat berjamaah, dan tarawih berjamaah, serta ersedekah.
Adapun hikmah yang bisa kita ambil pada saat menjalani Ramadan di tengah wabah Corona ini sesuai dengan hadist, Nabi saw. menegaskan seorang Muslim tidak akan merugi dalam situasi apa pun. Sebab, keimananya akan menjadikannya sebagai seorang hamba yang bersyukur, ketika mendapatkan kemudahan dan juga bersabar ketika mendapatkan kesulitan dalam hidupnya.
Dari Shuhaib, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam bersabda: "Perkara orang mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin; bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya, dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Bukhari Muslim).
Isnan Ansory dalam bukunya Fiqih Menghadapi Wabah Penyakit mengatakan, Allah Swt. juga menjanjikan keutamaan yang besar atas mereka yang senantiasa bersabar dalam menghadapi segala ujian (bala) dari Allah Swt.
Labels:
opini
Thanks for reading Menyambut Ramadhan di Tengah Wabah. Please share...!

0 Komentar untuk "Menyambut Ramadhan di Tengah Wabah"