Speak Up Banua

Penulis Bela Islam dari Akademi Menulis Kreatif Regional Kalimantan Selatan

"Buatlah karya yang menggoncang dan bersabarlah dengan proses panjangnya."

(Founder AMK - Apu Indragiry)

SENANDIKA

SENANDIKA

Oleh: Mardiah Amalina

Sebakda hujan menyirami   

luluh bersimpuh panas seminggu 

Menyembul Arunika  di 20 September 2020


Aku membaui Petrikor dan meraki

Memanggil eunoia 

Tuk mengurai kata

Tentang dunia yang penuh durjana

Tentang candramawa

Samar melingkupi

Tentang mereka  yang adikara

Mempersekusi ulama semaunya

Jiwa yang pongah dan jumawa


Ah itu semua hanya sebentar

Persekusi tak kan membuat gentar 

Karena Dia tak pernah ingkar

Janji-Nya Maha Benar

Karena hujjah yang terlontar, 

kami sudah prediksi itu akan keluar 

Meski ku ke sana ke mari berkoar-koar

Mombolak-balik yang salah dan yang benar

Kau kira ini hanya kelakar?

entar hidupmu kelar



#Desa sunyi, 20092020

Pejuang Kemanusiaan



By: Ulin Nuha

Isak  sayup dalam kepedihan
Menahan nyeri yang menghujam badan
Menyaksikan pejuang kemanusiaan
Berjibaku di garda depan

Dengan alat tempur ala kadar
Membuat mereka rawan terpapar
Menyingkirkan rasa enggan
Demi sumpah profesi yang telah diucapkan

Berjuang bertaruh nyawa
Meninggalkan sanak keluarga
Melawan virus yang datang menyapa
Membersamakan para penderita
Yang sedang bertarung melawan Corona

Wahai para pemilik kebijakan
Tidak kah hati kalian tergetar
Melihat mereka yang menjadi pejuang di garda depan
Tidak kah kemanusiaan kalian terusik
Meyaksikan mereka berseragam kan jas hujan ala kadar

Bukankah kalian punya kuasa?
Tidakkah tergerak untuk turut andil nyata
Meski hanya menyediakan APD yang layak pakai

Lupakah kalian ada hisab yang menanti?
Tak ingatkah kalian bahwa kepemimpinan mu akan di mintai pertanggungjawaban?
Belum cukupkah korban yang berjatuhan?
Sehingga hatimu tetap membatu
Tak terusik
Bahkan mempertontonkan keponggahan,
Aksi unjuk kekuasaan
Minta rapid tes gratisan

Sungguh tak elok
Ketika para pejuang di garda depan bertaruh nyawa
Kalian justru diam tak bersuara
Bahkan menolak jasad mereka
Yang tumbang demi selamatkan jiwa sesama

Wahai para pejuang kemanusiaan
Semoga rida Allah menyertai langkah kakimu
Bersabarlah apapun kondisimu
Semoga Jannah menjadi hadiahmu
Doa kami bersamamu

Covid Nineteen



                            Oleh: Puspita
(Kala ia hadir ditengah bumi ini , meluas dan kian menyebar; April 2020)

Angin berhembus mulai menyapa
Dinginnya merasuk kedalam tulang dada
Lembutnya selimut seakan merangkul nyata
Meminta tetap berada di peraduan senja

Namun mata tak lagi dapat terpejam
Teringat mahkota yang rusak legam
Dulu mahkota itu indah mempesona
Sekarang tak seorangpun mau bersua

Bukan mahkota biasa
Dialah makhluk yang begitu kecilnya
Namun jutaan nyawa telah dibawanya
Datangnya tak pernah permisi
Inang yang didatanginya seringkali dibawa masuk peti
Mengakhiri semua nikmat duniawi
Memutuskan kesempatan tuk beramal di hari ini

Dialah corona
Covid nineteen nama keren penyakitnya
Makhluk yang super kecil ukurannya
Namun jalan maut bagi mereka yang diserangnya
Allah kirim sebagai pengingat kita
Kepada hambanya yang telah banyak lupa
Bahwa syariatnya telah dicampakkan begitu saja
Ulamanya telah banyak disakiti
Ajarannya telah lama ditinggalkan banyak negri

Untaian kesadaran segera menyeruak dalam diri
Kaki seakan ingin berlari
Segera menyampaikan syariatNya ini
Sejenak terhenti mengingat kondisi
Jari mengganti kaki
Untuk terus bangunkan kesadaran penghuni dan pengurus negeri
Sambil terus berharap wabah segera pergi

AKU TAK PANDAI BERPUISI



                        Oleh: Mardiah Amalina

Aku tak pandai berpuisi
Tapi ingin bicara emansipasi
Yang kau hembuskan jauh sebelum ini
Bagaimana kaum freemasonrie menggembosi
Menawarkan madu di permukaan
Padahal racun yang mematikan
Mereka manipulasi orang-orang yang tersakiti
Mamanfaatakan segala situasi

Masih lekat diingatan
Saat puisimu kau rilis duhai Bu Suk
Diksimu sungguh menohok, begitu seronok
Tapi seiring perjalanan mentari
Kondemu ternyata tak seberharga masker saat ini
Hijab yang kau caci lebih melindungi
Kidungmu tak semerdu azan di telingaku
Hari ini yang inginkan bukti
Dia tunjukkan
Masihkah hati tertutupi keangkuhan?
Masihkan jiwa bergelinjang kemunafikan?
Andai kau selami jauh ke dasar hati
Nurani dan empati masih bersemayam di relung diri

Sampai detik yang tersisa
Aku tak pandai berkata-kata
Diksiku tak nyastra
Bosan dengan segala berita
Sampah menjejali otak dan logika
Bahkan untuk waras saja menjadi barang langka

Hanya kecamuk jiwa yang harus diungkapkan segera
Tentang damai yang diimpikan semesta
Tentang janji dan bisyarah-Nya
Tentang sebuah peradaban yang menghapus kebiadaban

Lantas, apa yang bisa kau laku?
Segera ambil bagian meski kau rasa itu hanya seujung kuku
Paling tidak kau tak terpaku.


#DiRumahAja, 19042020

Allah Tempat Mengadu





Oleh: Nor’alimah, S.Pd

Bayang-bayang kelam melintasi gelapnya malam
Lelah dan letih, bagian dari perjuangan
Kepala bergelayut dalam kepusingan
Inilah hiruk pikuk kehidupan

Berjuta masalah terus berdatangan
Jadikan ia sebagai tantangan kehidupan
Sehingga kita mampu menyelesaikan berbagai persoalan
Aturan dari Allah tetap menjadi sandaran

Pekerjaan dunia tak ada akhir
Menanti manusia , hingga batas takdir
Janganlah manusia lalai dan mangkir
Dari ibadah yang ditetapkan al-mutakabbir

Kehidupan dunia memang menjanjikan
Menghadirkan keindahan yang menyenangkan
Meski terkadang ia melalaikan
Jika ia tak sering diingatkan

Jika hidupmu terasa penuh beban
Pikiran diselimuti kebuntuan
Perasaan yang tak karuan
Seakan masalah tak dapat diselesaikan

Adukan kepada Allah setiap persoalan
Bersimpuhlah di sepertiga malam
Mencurahkan isi hati dan permasalahan
Berharap Allah memberikan jalan penyelesaian

Jangan kau umbar masalah yang dihadapi
Mengeluhkan pada manusia yang tiada bertepi
Cukuplah Allah sebagai tempat kau berbagi
Allah mencintai orang yang menjaga isi hati

Jika yang terbayang adalah beratnya ujian
Ingatlah Allah akan memberikan masalah sesuai kesanggupan
Bahwa engkau mampu melewati berbagai persoalan
Agar ketakwaan meningkat dan menghujam

Ingatlah Allah yang telah menciptakan
Mencipta manusia dengan seperangkat aturan
Aturan terbaik yakni syariat Islam
Mengalahkan aturan manusia yang penuh keterbatasan

Sesungguhnya Islam adalah agama yang paripurna
Membawa rahmat bagi semesta
Jika ia diterapkan dalam kehidupan
Kesejahteraan dan keberkahan akan Allah  turunkan
Back To Top