Speak Up Banua

Penulis Bela Islam dari Akademi Menulis Kreatif Regional Kalimantan Selatan

"Buatlah karya yang menggoncang dan bersabarlah dengan proses panjangnya."

(Founder AMK - Apu Indragiry)

Gas Terkendali Hanya Dengan Penerapan Islam di Semua Lini



               Oleh: Mulyaningsih, S. Pt

Anggota Komisi VII DPR RI, Andre Rosiade mengkritisi distribusi tertutup gas elpiji 3 kilogram (melon) yang diwacanakan pemerintah. Meski kebijakan tersebut belum ditetapkan, ternyata harga melon telah melonjak naik di tingkat pengecer. Politisi Partai Gerindra itu memberi contoh, kenaikan harga melon di Kabupaten Agam, Medan, dan Deli Serdang harga jual di tingkat pengecer rata-rata Rp 25.000,00-Rp 35.000,00 per tabung (naik sekitar Rp 5.000,00-Rp 10.000,00).

Saat itu pemerintah menerbitkan kartu kendali. Namun, dalam kenyataannya, kartu kendali distribusi tidak berfungsi sesuai tujuannya, sehingga distribusi menjadi bersifat terbuka.

"Dari agen ke pangkalan, pengecer, itu diatur HET (Harga Eceran Tertinggi) oleh Pemda masing-masing karena jaraknya beda-beda. Makanya, harga di pengecer bisa lebih mahal dari harga di agen. Tapi nanti akan diatur," jelas Direktur Hilir Migas Kementerian ESDM, Mohammad Hidayat, di Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Migas, Djoko Siswanto mengatakan, elpiji 3 kg tetap dijual di pasaran. Tetapi, dia menyarankan bagi warga mampu untuk membeli gas di atas 3 kg. Karena, nantinya harganya akan dipatok sesuai harga pasar (kompas.com, 23/01/2020).

Satu lagi kado pahit yang akan diterima oleh rakyat di negeri ini. wacana kenaikan harga si primadona “melon” benar adanya akan terealisasi. Kemudian perihal penyaluran yang dibatasi nampaknya akan diberlakukan juga.

Kita baru saja memulai tahun ini, namun fakta begitu mengejutkan. Berbagai kebijakan silih berganti dikeluarkan oleh pemerintah negeri ini. Satu kata yang tetap mengemuka dan tak berubah, yaitu rakyat kembali menjadi korban dari semua kebijakan itu. Kapan kondisi ini berbalik arah? Akankah rakyat menerima kado terindah dan teristimewa dalam sistem sekarang?

Semua itu diakibatkan oleh penerapan sistem yang ada sekarang. Negeri ini didasarkan pada kapitalisme yang berteman akrab dengan sekulerisme membuat karut marutnya pengelolaan salah satu sumber daya alam di negeri ini (gas). Dengan dalih materi, semua bisa dijalankan dan diambil alih. Bahkan kepemilikan akan sumber daya alam juga dengan mudahkan dapat dikuasai. Sungguh, inilah fakta kerusakan yang ditimbulkannya dari sistem tersebut. Tentulah rakyat yang akan menjadi korbannya.

Pandangan Islam

Kita menyakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, mengatur semua hal baik permasalahan yang terkait dengan individu dengan pencipta, dirinya sendiri ataupun orang lain. Semua tersirat didalam al Quran dan Hadist yang menjadi pedoman hidup kaum muslim.

Pada salah satu hadist Nabi  Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal; air, rumput, dan api. Dan harganya adalah haram. Abu Said berkata,  Yang dimaksud adalah air yang mengalir. [HR. Ibnu Majah].

Dalam Islam seluruh lini kehidupan manusia tentulah diatur. Begitu pula dengan persoalan si melon yang kini harganya merangkak naik. Dari hadist di atas dituturkan bahwa kaum Muslim berserikat atas tiga hal yaitu air, rumput, dan api. Gas adalah termasuk dalam wilayah api sehingga pengaturannya tak boleh diserahkan pada pihak swasta baik lokal maupun luar negeri, perorangan atau kelompok. Karena sudah terbukti jika pengelolaannya tidak diambil alih oleh negara maka persoalan akan bermunculan. Terbukti dengan kejadian demi kejadian yang terjadi di negeri ini.

Dalam Islam dijelaskan terkait dengan kepemilikan suatu barang atau benda. Apakah barang tersebut boleh dimiliki individu, umum ataupun negara yang harus mengambil alih untuk pemanfaatannya. Karena ini harus jelas, sebab jika tidak jelas akan menyebabkan kekacauan yang amat parah. Bisa jadi sampai merugikan beberapa pihak. Termasuk juga mengatur dalam hal energi, yang salah satunya adalah gas. Seperti bunyi hadist di atas menyebutkan bahwa kaum Muslim berserikat dalam tiga hal. Salah satunya adalah api. Gas ini adalah termasuk dalam bagian api. Berarti menurut kepemilikannya adalah bersifat umum, semua orang boleh saja mengambil dan memanfaatkannya. Tetapi harus negara yang turun tangan untuk mengelolanya. Karena bisa berbahaya jika bukan negara yang mengelolanya. Akan ada dampak yang kurang baik, misalnya menjadi milik kelompok orang tertentu atau bahkan dikuasai oleh orang-orang yang mempunyai modal besar. Jika begitu maka tidak semua kaum muslimin bisa merasakannya dan memanfaatkannya dengan baik.

Hal ini akan terus saja berulang bahkan bisa jadi sampai tak terjangkau harganya. Jika ingin pengelolaan sesuai dengan porsi dan jauh dari murka Allah, maka hanya akan terwujud jika negeri ini mencampakkan sistem ekonomi yang sedang menggurita. Campakkan sistem yang sekarang dan ambil sistem Islam agar berkah dapat dirasakan oleh semuanya, termasuk hewan dan tumbuhan.

Hanya dengan menerapkan sistem Islam-lah semua bisa dijalankan sesuai dengan perintah Sang Pencipta, yaitu Allah Swt. dan menjauhi larangannyaNya. Dengan begitu insya Allah semua akan sejahtera, terpenuhi segala kebutuhannya dan tenteram akan didapatkan. Tidak hanya pada manusia, hal tersebut juga akan dirasakan oleh makhluk ciptaan Allah yang lain.

Wallahu a'lam bishshawab
Labels: opini

Thanks for reading Gas Terkendali Hanya Dengan Penerapan Islam di Semua Lini. Please share...!

0 Komentar untuk "Gas Terkendali Hanya Dengan Penerapan Islam di Semua Lini"

Back To Top