Waktu terus berlalu, ternyata tanpa kita sadari Ramadan mulia telah pergi dan berganti dengan syawal nan suci. Seiring dengan berputarnya sang waktu, ternyata masalah yang melanda negeri ini pun semakin pelik dan rumit. Banyak sekali masalah yang menghampiri negeri ini, silih berganti tanpa ada henti. Yang menjadi sorotan adalah harga tiket yang masih melangit dan membahana. Sampai-sampai ada sebagian perantau rela menahan untuk tidak mudik dikarenakan harga tiket yang naik begitu drastis. Seperti perkataan orang bahwa mau mudik berat di ongkos.
Dilansir dari beberapa berita, didapati bahwa pemerintah akan berusaha menurunkan harga tiket pesawat tersebut dengan cara mengundang maskapai asing untuk beroperasi di Indonesia. Menurut Cheppy Hakim, rencana mengundang maskapai asing juga bertentangan dengan Konvensi Chicago 1944 mengenai asas sabotase penerbangan. Ketika memperbolehkan maskapai asing melayani penerbangan domestik bertabrakan dengan tujuh Konvensi Chicago 1944 yang menyebutkan bahwa negara memiliki hak untuk menolak (right to refuse). “Gambaran sederhananya, kalau kita undang maskapai asing, itu simbolisasi atau refleksi bahwa kita tidak punya kemampuan mengelola. Kenapa harus mengundang maskapai asing kalau kita bisa,” ungkapnya (economy.okezone.com, 15/06/2019).
Menurut ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini, jika mempertimbangkan kebijakan hanya satu sisi dan mengorbankan sisi yang lain, maka diperkirakan bisa merugikan ekonomi nasional dalam jangka Panjang. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah terkait usulan untuk mempersilahkan maskapai asing bersaing di dalam neeri (rmol.id, 16/06/2019).
Menjadi hal yang lumrah jika negara selalu berlepas tangan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan pengelolaan, penyediaan ataupun penyelesaikan berbagai persoalan yang sedang di alami oleh rakyat di negeri ini. ujung-ujungnya kita dibiarkan menelan pil pahit dari diterapkannya sistem yang amat merusak masyarakat. Bagaimana tidak, penerapan sistem kaitalis yang di dukung dengan adanya liberalisme mampu menjauhkan pemerintah dari segala kewajiban yang seharusnya dilakukan olehnya. Tampak jelas bahwa mereka berlepas tangan akan segala kondisi kehidupan rakyatnya. Termasuk pula di dalamnya adalah persoalan penerbangan. Dalam hal ini menjawab akan pertanyaan bagaimana menurunkan mahalnya harga tiket pesawat terbang dengan rute domestik adalah dengan mempersilahkan armada-armada asing untuk beroperasi alias bekerja di penerbangan dalam negeri ini.
Sungguh jawaban yang amat ironis sekali, bagaimana tidak, apakah masih kurang maskapai yang ada di dalam sehingga harus mengundang maskapai asing untuk mengendalikan harga tiket yang makin melangit tersebut. Tentu hal tersebut bukanlah jawaban tepat atas pertanyaan tadi. Justru dengan adanya jawaban tersebut membuat masalah baru yang muncul.
Tentulah harus dipikirkan matang-matang ketika hendak mengeluarkan solusi-solusi yang akan dilakukan. Terlepas sebagai seorang muslim, haruslah mengacu pada Islam memandang akan sebuah persolan dan semua akan dijawab dengan metode yang berasal dari Islam (baca: Allah). Tentulah akan terjawab dengan tuntas tanpa menimbulkan permasalahan yang baru karena Islam bukan hanya sebuah agama yang mengatur permasalahan ibadah ummat kepada Rabbnya saja, namun seluruh aspek diatur, termasuk pula dalam hal dunia kedirgantaraan (penerbangan).
Sekulerisme telah membuat cara pandang kita akhirnya tertuju pada sekup-sekup kecil saja, tidak melihat pada keseluruhan. Hal ini mengakibatkan Islam tidak boleh mengatur wilayah di luar dari peribadahan. Tentulah ini asal muasal dari permasalahan mahalnya harga tiket pesawat tadi. Oleh sebab itu, kita harus membuang jauh sekuler dari dada dan pikiran. Kemudian pemikiran terkait dengan aspek bahwa penerbangan adalah bagian dari industri harus kita lenyapkan. Karena ini kemudian akan mengarah pada kepemilikan, yang seharusnya berfokus pada fasilitas umum namun berubah menjadi sesuatu yang dikelola dan dikuasai oleh swasta. Secara otomatis jika swasta yang mengelola hal tersebut maka yang terjadi adalah mengambil sebanyak-banyaknya keuntungan dari sana (fungsi bisnis) bukan lagi sebagai pelayanan. Negara hanya sebagai legislator. Oleh sebab itulah, akan sangat wajar jika harga tiket pesawat kemudian akan melambung tinggi.
Akan sangat jauh berbeda manakala Islam hadir dalam kehidupan masyarakat. Islam akan menerapkan investasi infrastruktur strategis dengan tiga prinsip yaitu, pembangunan infrastruktur adalah murni tanggung jawab negara dan tidak boleh diserahkan kepada pihak swasta. Kedua adalah perencanaan wilayah yang baik maka akan mengurangi kebutuhan trasnportasi. Artinya adalah bahwa pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan serta kepentingan dari masyarakat atau rakyat yang ada di daerah tersebut. Ketiga adalah negara membangun infrastruktur publik dengan standar teknologi terakhir yang dimiliki (teknologi navigasi, fisik jalan, navigasi, telekomunikasi). Teringat akan keseriusan kepala negara (Umar bin al-khathtahab) mengurusi persoalan transportasi. Beliau berujar bahwa “Seandainya ada keledai yang terperosok di Kota Bagdad karena jalan rusak, aku khawatir Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban diriku di akhirat nanti.” Hal itulah yang mendasari pemimpin negara untuk menjalanka kebijakan-kebijakan transportasi.
Dengan menjalankan konsep tersebut di atas maka akan membuat negara dalam hal ini adalah pemimpin negeri menjalankan secara sungguh-sungguh kewajiban yang sejatinya harus dilakukan. Terlebih adalah masalah transportasi yang menjadi kebutuhan yang mendasar bagi seluruh masyarakat. Dalam hal ini pemimpin negeri harus bisa menjalankannya dengan baik, artinya memenuhi hak-hak dari rakyatnya. Tentulah semua itu hanya bisa diterapkan manakala sistem yang ada adalah Islam. Semoga akan segera terwujud dan haruslah ada usaha keras kita agar sistem tersebut mampu diterapkan dengan baik dan se-segera mungkin. Sudah saatnya berjuang bersama agar mempercepat pertolongan dari Allah SWT. Wallahu a’lam.
Mulyaningsih, S.Pt
Ibu Rumah Tangga
Pemerhati keluarga, anak dan remaja
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Chapter Kalsel
Labels:
opini
Thanks for reading Harga Tiket Mahal, Islam Punya Solusi Jitu. Please share...!

0 Komentar untuk " Harga Tiket Mahal, Islam Punya Solusi Jitu"