Speak Up Banua

Penulis Bela Islam dari Akademi Menulis Kreatif Regional Kalimantan Selatan

"Buatlah karya yang menggoncang dan bersabarlah dengan proses panjangnya."

(Founder AMK - Apu Indragiry)

Secangkir Teh Melati (1)



"Kang, Mel mau kita menikah saja!"

Dia menelisikku dengan pandangan melekat, dan akupun sibuk menghindari tatapan tajamnya. Aku sulit percaya. Jika Ia tak memenuhi keinginan ku, tak apalah. Aku siap sakit hati sekarang. Daripada meneruskan hubungan tak terikat ini yang membuatku terbelenggu rasa panas,  api yang memanaskan.

Harapku, Ia akan mengabulkan permintaanku. Mungkin menurutnya banyak keanehan dalam diriku beberapa hari ini. Ditambah dengan permintaan yang mendadak ini. Namun, bukan itu masalahnya. Ini adalah hubungan keseriusan, bukan candaan apalagi permainan. Aku merasa lemah sebagai wanita ketika berada di satu titik keputusan berat. Tapi, dosaku tak kalah berat. Mengingat kami sangat lama saling mengenal dan beranjak dewasa dengan ikatan pacaran, hati ini ngilu mendapatkan diri harus terpaksa segera memutuskan. Berusaha meyakinkan apa yang ku mantapkan dalam istikharah berhari hari ini.

Sakit hati dengan keputusan sendiri. Malu saat kunyatakan akulah yang paling menginginkan nya.

"Mel, kamu kenapa? Akang pasti nikahin Melati!" Jawabnya santai.

"Bukan!" Tukasku padanya dengan nada serak menahan luapan tangis. Kali ini aku mundur, menampikkan kedua tanganku agar ia tak mendekat. Akhirnya, ia terdiam di tempatnya. Berusaha duduk kembali setelah mencoba berdiri dan mendekati ku.

Aku mengatur nafas dalam dalam. Menguatkan diri agar tak lemah di hadapannya. Kalaupun ia memilih tak menerima permintaan kali ini, biarkan aku egois menyakitinya. Sebab, aku takut Allah lebih murka padaku, "Mel sudah banyak melakukan dosa. Dan semakin lama semakin banyak dengan adanya hubungan ini. Belum lagi kita memang kenal sejak dini, Kang. Tak payah menjelaskan detail bagaimana permintaan ini ku ini. Aku ingin, hidup tenang tanpa terikat dosa karena kita pacaran. Islam mengajarkan kita ketika jatuh cinta, jalan keluarnya hanya dengan pernikahan. Mel juga butuh kepastian" Jedaku.
Dengan rakus, kuhirup udara sebanyak yang kubisa untuk mengendalikan pecahan embun di pelupuk mata. Tapi, kata-katanya bukan meredakan diriku yang tersiksa dengan perasaan tak jelas ini, namun justru menambah ketegangan.

"Kita selesai!" Ia menghirup udara. Meredakan lilitan emosi yang terjebak dalam hati, berusaha tak menyakitiku seperti dulu dulu, "Kamu hargai apa perjuangan ku selama ini? Aku berusaha keras agar semua bisa ku samakan dengan mu. Kuliah, kepintaran, dan... Visi Misi kita" Tenggorokannya tercekat. Berusaha meneruskan kata kata selanjutnya, "Memangnya menikah semudah yang kamu ucapkan? Tak semudah itu! Aku terlalu tak peka. Beginilah balasanmu padaku?"

Aku menunduk. Dalam diam, aku mengusap pelan sudut mata yang berair. Memang benar, menikah tak semudah yang ku katakan. Memori itu terus berjalan seiring perginya dentingan sendok yang kuadukan dalam sisa Teh Melati dalam gelas. Menguar, menampakkan jejak perjalanan dengan Kang Haris.

Tanpa kujangkau, ia pergi tanpa meninggalkan sepatah kata untukku. Mau kemana Ia? Semoga tak ada lagi pertemuan dengannya. Meski jarak rumah kami hanya tersekat satu blok perumahan.

Haahhhh.. kesal. Pada diriku yang kurang ikhlas. Mengapa memutuskan dosa seberat ini?

Kutatap kursi yang ia duduki. Lalu, aku mencengkram tanganku. Tak bisa kupendam lagi, tangisku pecah seketika. Ditemani secangkir teh melati yang biasa Ia pesanakan di Kafe ini.

Inilah cara terbaik yang Allah mau. Ingin aku bermersaan dengan-Nya. Meluapkan semua gundah yang menyesakkan dada. Menggeluti romansa sujud di hadapan-Nya. Serta menguatkan hati agar bersabar dan menanti yang lebih baik darinya. Allah amat menyayangiku, hingga aku tak sejauh yang kuinginkan bersamanya dulu.

Niatku memutuskan hijrah mengenakan pakaian gamis dan kerudung syar'i yang menutupi dada. Seperti kali ini yang ku coba pertama kali. Gerah. Satu kata itu yang terbesit dalam kepalaku. Namun, memutar lagi pemahaman dari Lala, teman dekatku akhir-akhir ini yang memberi arahan pakaian wanita sesuai dengan ketentuan Islam.

"Kenapa?" Tanya Lala yang tiba tiba berada di sampingku.

"Kenapa tidak mengajakku tadi? Kenapa sendiri? Tahukan kalau berdua saja itu dosa? Harusnya juga, kamu sama walimu"

Apa katanya? Waliku? Bisa mati rasa aku jika  kakakku Hanif tahu dengan tingkah konyolku. Mungkin Ia nanti akan membungkus ku dengan koper. Sebab, ia paling anti denganku yang berpacaran sejak SMA dulu. Tapi, sejak peringatannya dulu itu awal mula kisahku tersambung dengan Kang Haris.

"Iya maaf. Tadi keburu. Lagian, aku malu kalau bawa orang tadi"

"Malu?" Beonya. Ia menatap manik mataku dengan pandangan mengadu.

"Iya" Cicitku.

"Tapi yang seperti tadi juga salah" Katanya lagi. Aku seperti tersudutkan kali ini.

Bersambung...
Labels: Cerbung

Thanks for reading Secangkir Teh Melati (1). Please share...!

0 Komentar untuk "Secangkir Teh Melati (1)"

Back To Top