Beberapa tahun berlalu dengan kesibukan kajian bulanan, serta intensif mingguan. Tak sempat berpikir akan mengenang masa lalunya. Mengisi kajian remaja, membagikan buletin dakwah, dan seabreg tugas tugas lainnya. Belum lagi, Melati mengikuti semester pendek agar Ia segera lulus dengan gelar sarjananya.
Melati membuka rak dengan tumpukan buku masa lalu. Sengaja tak pernah Ia buka. Sebab, ketika membuka, luka itu akan kembali menganga. Keputusannya memang terlampau berat, mengingat masa masa lalu dengan teman masa kecilnya yang sangat menyenangkan.
Ia buka album pertama. Kala itu umurnya masih 10 tahun. Sedang Haris 11 tahun. Sekolah di tahun yang sama. Tapi, Haris lebih tua setahun darinya. Ia berpose memeluk Haris di depan tanaman beringin depan rumah Haris.
Namun, ia kembali tergelitik, sepasang ingatan memutar memori Minggu lalu saat mengisi kajian remaja di depan teman teman Muslimah nya.
"Cinta itu fitrah. Apalagi ketika masa masa baligh. Kadang suka bikin gelisah. Tapi meski begitu, cinta tak harus dipenuhi ketika kita masih belum siap menopang dengan pernikahan. Sebab, tak ada jalan keluar dari orang yang jatuh cinta selain dengan menikah. Jika belum sanggup untuk menikah? Maka berpuasalah. Setidaknya bisa menyibukkan diri untuk tidak terlalu cepat berburu cinta yang belum tepat."
****
Sepuluh Desember, Melati jalankan aktivitas dengan bertemu sahabat hijrah. Menyibukkan diri dengan menulis, membaca, serta mengisi waktu kosong dengan siaran radio kampusnya. Melati merasa sangat terkenal dengan waktu, hingga Ia pernah terjerembab dalam kubangan dosa.
"Permisi mbak, boleh duduk di sini?" Seseorang yang berdiri tepat di depanku menunjuk kursi yang tersekat meja Kafe. "Boleh kan? Saya ada perlu pakai WiFi nya.."
Melati mengangguk menatap sekilas wajah itu. Seolah bom bardir dalam degupan jantung. Dentuman ombak yang keras seperti menghantam kejiwaannya. Aneh, Melati mengintip disela buku yang di pegangnya. Benar- benar mirip. Nyaris tak ada bedanya. Dari mulai perawakan, baju, dan..... Jam tangan! Jam tangan hitam itu pemberian Melati terakhir kali saat dipenghujung umur 19 tahun. Tepatnya sebelum acara memutuskan itu.
"Akang?"
Spontan suara lirih ini malah membuat dari bibir Melati yang polos.
Pria ini sangat kebingungan dengan tatapannya ke lain arah. Ia menjaga pandangan. Nampak gusar dan malu.
"Afwan, Akang siapa?" Tanyanya setelah resah dengan kebingungan Melati.
Melati hanya sibuk menampilkan cengiran di wajah.
"Eh, tidak. Salah orang. Saya kira teman saya" Katanya sambil meremas ujung kerudung menahan malu. Menepuk kedua pipinya yang makin memanas. Tapi sepertinya memang kebetulan mirip sekali, jangan-jangan kembaran Kang Haris?" Melati berdialog dengan dirinya sendiri.
Beberapa menit selanjutnya hanya terdengar suara dentingan sendok dan seruputan minuman masing-masing. Tapi, keduanya membisu. Memilih bungkam, membuang muka, dan berpura pura saling mencari kesibukan di layar smartphone nya masing masing.
Tiba tiba, suara alunan panggilan ponsel Melati memutus canggung di meja tersebut.
"Assalamu'alaikum" Sapa Melati mengawali percakapan.
Melati melirik pria tadi yang pindah di meja lain.
"Wa'alaikumsalam"
"Ada apa?"
"Hari ini kita belajar di rumah Teh Vani dimajukan jam 11 ya? Soalnya kalo kesiangan keburu sore pulang ke rumah Mamah"
"Oke deh. Meluncur ke rumah Teh Vani. Jangan lupa bawa buku kemarin ya?"
"Buku yang mana?"
"Itu, buku Kado Pernikahan untuk Suami"
"Ha? Secepat itu ya kamu nikah? Jadi, udah move on dong?"
"Enggak. Aku belum ada rencana nikah tuh" Elaknya. 'Tapi rencana ta'aruf' balasnya dalam hati. Melati tersenyum.
"Udah ah, pokoknya dibawa"
"Iya cerewet. Dah, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
*******
"Teh, gimana foto ikhwannya? Sudah ada belum? Masa cuma biodatanya saja? Kan kurang komplit?" Tanya Melati memborong pertanyaan setelah selesai kajian.
Vani tersenyum, mengambil tangan Melati yang mulai panas dingin menahan gugupnya. Sebenarnya, ada rasa malu dirinya yang agak posesif menanyakan soal Ikhwan kandidat Vani, "Kata Ikhwan nya, langsung ketemu saja. Kalau di foto kurang jelas." Melati melongo, tak sanggup menutupi kagetnya. "Sekarang siap- siap. Wajar kok gugup. Gak papa. Sekarang suami Teteh sudah di ruang tamu sama ikhwannya."
"Teteh.... Serius?" Tanyanya ragu bercampur takut. Takut memulai langkah dan takut rasa yang tak searah.
"Bismillah, semoga Allah mudahkan jalan ini. Sedikit, ikhlaskan sudah yang dulu dulu. Yang ada dihadapan sekarang yang dijalankan. Toh, kamu juga sudah cocok dengan biodata Ikhwan itu"
"Iya, bismillah. Semoga langkah awal ini menggugurkan dosa Mel ya."
Dan Melati kembali terperangah sosok Ikhwan itu, ia mendelik tajam ketika pasang mata beradukan matanya seperkian detik. Lalu, berikutnya keduanya beringsut menundukkan dalam pandangan. Ia kembali menerkam gemuruh dada.
Dalam hati Melati gelisah ketika pemuda itu menjadi peran utama yang Ia cari selama ini. Wajah itu terlalu mirip dengan masa lalunya. Sebab itu Ia merasa berat. Tapi dengan terpaksa Ia membuat keputusan. Yang entah bagaimana bisa keputusan itu pada akhirnya berbuah persetujuan antara keduanya.
Ta'aruf selesai berganti khitbah dan segala tetek bengeknya. Sampai rancangan pernikahan. Undangan untuk para saudara, kerabat, dan sahabat dekat sudah tersebar. Dan kebanyakan dari mereka terkejut tiba- tiba menikah, tanpa ada pendahuluan.
Seturut pemahaman mereka, tiba tiba menikah tanpa pacaran apa tidak mengganjal? Begitulah bisikan mulut, dan cibiran orang orang. Melati tak peduli. Ia kembali menata acara di H-5 sebelum proses sakral itu. Ia dipinta membantu Tante Sari, Ibu Hafidz, calon suaminya.
Tapi, ia dirundung kebingungan ketika dari belakang kedua pemuda yang saling merangkul, nampak akrab bercengkrama. Melati tak tahu siapa disamping calonnya.
"Itu Haris, adik kembaran Hafidz. Memangnya tidak mencantumkan dalam CV kemarin?"
"Tidak ada Tante. Hanya satu saudara saja."
"Akang...." Panggilnya lirihnya setelah kepergian tante Sari. Apa saja yang aku tak tahu dibalik keluarga ini? Mas Hafidz yang ternyata kembaran Kang Haris? Dan.... Tante Dewi dan Om Rangga orang tua Kang Haris? Apa maksudnya semua ini? Apa semua orang benar benar membodohiku? Mengenal kedua pria yang ternyata punya satu ikatan batin? Astaghfirullah..
Bersambung.....
Labels:
Cerbung
Thanks for reading Secangkir Teh Melati (2). Please share...!

0 Komentar untuk "Secangkir Teh Melati (2)"