Oleh: Mutafaail
Di pelosok suatu daerah, Grogolan orang-orang menyebutnya. Hidup sepasang keluarga kurang mampu dan tidak jelas asal-usulnya. Keluarga ini hidup sederhana, makan seadanya, nasi aking atau nasi jagung kuning, yang sebetulnya tidak umum dikonsumsi masyarakat sekitar. Nasi aking merupakan nasi sisa yang di keringkan untuk di daur ulang, lauknya daun (bukan lock down) ya. Daun singkong, pepaya, ubi jalar, sebagai lalapan menemani sambel korek. Itupun hasil membeli setelah “ngreyeng”.
Tidak jelas asal-usulnya karena tidak ada yang tahu dari mana ia berasal dan siapa orang tuanya. Menurut kisah sesepuh desa, di temukan di sebuah pemakaman, di bawah pohon asam bersama kakak perempuannya yang masih kecil. Mereka dipungut orang yang berbeda sehingga mereka terpisahkan oleh takdir Yang Maha Kuasa.
Tujuh orang tua angkat yang membesarkannya, setelah meninggal orang tua asuh, maka berganti orang lain yang menjadi orang tuanya. Derita nestapa tiada berhenti, waktu tetap berjalan, namun api penderitaan tak kunjung padam.
Begitulah alam mendidiknya, untuk menjadi pejuang kehidupan, meskipun tidak ada yang mengenang kecuali anak-anaknya, sebagai tumpuan untuk mengubah keadaan. Mereka di karuniai tiga anak laki-laki yang sangat disayang. Harapan di tengah napas keputusasaan dirajut demi masa depan. Mereka tak mengenyam pendidikan dan di kenal sebagai wayangan. Mandi dengan tetap baju di badan, dipakai bekerja sampai kering. Tetapi keadaan yang sedemikian rupa tidak membuat mereka putus asa, mereka sabar, tawakkal, berdoa kepada Allah Swt., agar anak-anak mereka bisa mengubah keadaan.
Demi mewujudkan impiannya, mereka bekerja siang dan malam tak mengenal lelah. Setiap hari mereka berlomba dengan kokok ayam untuk menyambut mentari pagi. Di pagi buta nan gelap gulita, berbekal obor dari bambu atau pelepah pepaya menyusuri jalan setapak menuju sawah di pinggiran hutan jati. Menanam padi, kedelai, dan jagung (palagung), sebagai buruh tani, dengan bekal secangkir kopi meniran pengganti sarapan. Berangkat subuh, pulang menjelang magrib. Jika di pagi berlomba dengan Kokok ayam, waktu pulang mereka berlombang dengan mentari yang lari menuju peraduan. Jika terlambat mereka akan menjadi mainan gelapnya malam, tak tahu arah jalan, obor di pagi hari telah kehabisan energi untuk jadi penerang.
Hari, pekan, bulan terlewati dengan rutinitas ala wong pinggiran.
Rembulan malam yang nampak anggun muncul dari peraduan, menjadi penghibur mereka dan keluarga. Menggelar tikar pandan yang sudah berlubang di pelataran, sepasang sejoli suami-istri seakan sedang merangkai harapan di tengah-tengah napas keputusasaan. Di bawah temaram cahaya bulan mereka bersumpah, tak akan menyerah seperti bulan yang selalu berusaha menjadi penerang diantara mendung dan gelapnya malam. Selagi mentari dan bulan masih masih bersinar terang, maka harapan tak akan padam.
Ngobrol bareng sambil rebahan di bawah sinar rembulan, sangat mengasikan “ninir” dalam istilah masyarakat setempat. Ninir mampu menghilangkan kepenatan setelah seharian bekerja. Namun lebih dari itu bercengkrama bersama anak-anak dan belahan jiwa merupakan media menanamkan karakter kepada anak. Untuk bercerita, mendengar keluh kesah mereka. Sang anak mengurai tanya kepada Pak'e dan Emak'e (bapak dan emak) mengapa selalu pergi meninggalkan anak-anak selagi masih gelap?
“Nak, coba lihatlah burung-burung di pohon asam itu, sebelum mentari muncul mereka pun pergi meninggalkan anak-anaknya di sarang mereka. Untuk apa kira-kira nak?” sang Ibu bertanya kepada anak-anak mereka. Ketiga anaknya pun menjawab ‘mencari makan untuk anaknya Mak”. “ Nak begitu juga bapak sama emak bekerja keras untuk menyiapkan masa depan kalian, supaya kalian bisa lebih baik dari sekarang. Kalau kami menyuruh kalian setiap pagi setelah subuh, ngliwet(masak nasi langsung ke panci), menyapu, nimpal (membuang kotoran hewan dari kandang), tidak bermaksud membebani kalian. Tapi supaya kalian terbiasa, kerja keras, disiplin, sabar, ulet dan akrab dengan lingkungan sekitar kita. Harapannya kalian nanti menjadi anak-anak hebat”.
Jawaban sang Emak laksana dongeng indah pengantar tidur, ninir pun berakhir seiring pudarnya sinar rembulan karena mata ngantuk,dan tiba-tiba gelap gulita, bersamaan tertutupnya kelopak mata.
Keterangan
1. Menjual kayu bakar yang di peroleh dari hutan jati
2. Bahan olokan sebagai wayang yang tidak pernah berganti
3. Duduk di tempat terbuka untuk menyaksikan sinar rembulan
Labels:
Cerpen
Thanks for reading Merajut Asa dari Pelosok Desa. Please share...!

0 Komentar untuk "Merajut Asa dari Pelosok Desa"