Speak Up Banua

Penulis Bela Islam dari Akademi Menulis Kreatif Regional Kalimantan Selatan

"Buatlah karya yang menggoncang dan bersabarlah dengan proses panjangnya."

(Founder AMK - Apu Indragiry)

Prostitusi Subur Karena Kapitalisme-Liberalisme Mengakar


                     Oleh:Mulyaningsih, S. Pt
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Member Akademi Menulis Kreatif Kalsel

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina geram setelah mendengar cerita ada remaja di kotanya yang terjerat dunia prostitusi. Dia murka pada orang yang tega memanfaatkan kondisi labil remaja demi keuntungan.
Dari hasil investigasi Radar Banjarmasin, remaja-remaja itu terjerumus lantaran berbagai faktor. Kebanyakan lantaran masalah ekonomi atau pergaulan bebas. Namun mereka tidak bisa disalahkan karena ada orang-orang yang mempengaruhi bahkan mengajaknya mausk ke dunia hitam itu. Kalau tak berlebihan, remaja-remaja ini adalah korban human trafficking. Seharusnya remaja dibimbing menjadi kreatif dan mandiri, bukan malah dijerumuskan. Membawa dampak buruk bagi masyarakat dan bagi kondisi psikologi mereka. Ibnu menjamin pemko akan konsisten menangani dan mencegah agar tak ada lagi korban tambahan.
Tak ada penyebab tunggal dari fenomena prostitusi di bawah umur. Terkadang, beberapa faktor yang saling kait-mengait hingga kusut. Itulah yang ditegaskan oleh psikolog Rifqoh Ihdayati. Melacur toh demi uang, apalagi dengan usia muda dan tubuh ranum maka bayaran besar bisa diperoleh. Sekalipun agama melarang atau muncul HIV/AIDS mengintai.
Rifqoh juga tak menutup mata dari peran sindikat mucikari. Namun, alasan ekonomi atau terjebak mucikari tentunya ada akar masalah. Rasa takut terhadap tumpukan dosa yang kian menipis di tengah kehidupan kota yang gemerlap. Ia tak percaya jika Razia menjadi solusi atas persoalan diatas. Hal itu terbukti dengan kembalinya mereka ke jalanan setelah dilakukan Razia (m.kalsel.prokal.co, 23/12/2019).

Prostitusi Subur karena Kapitalisme-Liberalisme

Kasus yang terus saja berulang dan terjadi, menjadi momok tersendiri di negeri ini. Bisnis esek-esek yang selalu saja mengintai para wanita. Ya, itulah bisnis prostitusi. Ditutupnya lokalisasi pelacuran (Pembatuan.red) tidak lantas mematikan praktek prostitusi. Karena mereka tidak hilang akal untuk beroperasi. Dengan kemajuan teknologi, kini bisnis tersebut dapat dengan mudahnya dioperasikan. Cukup buka aplikasi lewat smartphone kita langsung bisa melakukan transaksi. Kitapun dibuat mudah dengan adanya aplikasi tersebut. Mau pesen wanita dewasa ataupun remaja silahkan saja.
Pembatuan hanyalah salah satu dari sekian banyak masalah mengenai bisnis prostitusi di Indonesia. Belum lagi ada Saritem dan gang 'Dolly' sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Dengan dalih, faktor ekonomi banyak orang yang tergiur untuk mengambil jalan pintas melakoni bisnis haram ini. Dengan dalih faktor ekonomi, banyak orang yang tergiur untuk mengambil jalan pintas melakoni bisnis haram ini. Namun, dibanding dengan faktor ekonomi tuntutan gaya hidup lah yang lebih dominan menjadi faktor dalam bisnis prostitusi.
Merebaknya prostitusi baik online maupun offline adalah salah satu bukti bahwa negara gagal dalam membina masyarakat dan generasi. Demokrasi membuat negara ini abai akan pengurusan terhadap rakyat. Sampai-sampai bisnis haram tersebut kian hari semakin subur dan makmur. Bahkan menjamur dan merata di seluruh pelosok negeri ini. Sungguh miris dan sedih melihatnya, keberadaan generasi penurus menjadi terancam akan hal tersebut.

Bisnis haram ini marak terjadi tentu karena ada penyuburnya. Kapitalisme-lah yang berhasil menyuburkan bisnis ini sehingga begitu subur dan gemuk. Sistem yang berdasar sekulerisme ini menganggap bahwa manusia diciptakan Allah Swt. Tanpa disertai aturan di dalamnya. Oleh karenanya mereka membuat aturan itu sendiri. Manusia bebas melakukan apapun di dunia ini tanpa ada batasan yang jelas. Itulah liberalisme yang kian hari menguat serta mengakar di tubuh kaum muslim. Akhirnya mereka melakukan segala aktivitas tanpa adanya pengontrol yang hakiki. Termasuk juga dalam aturan mencari materi, kepuasan diri dan makna kebahagiaan.

Dalam sistem ini, makna kebahagiaan terletak pada tercapainya kesenangan materi. Yang terpenting mendapatkan materi yang banyak, tak lagi memperdulikan cara mendapatkannya apakah benar atau salah. Hal itu tidak dipikirkan lagi, sehingga aturan agama dianggap tak layak untuk mengatur kehidupan mereka. Ditambah hedonisme yang menyelinap masuk membuat semakin jauhlah agama dari kehidupan ini. hingga akhirnya adalah kesenangan atau hidup hura-hura yang selalu dicari dan digandrungi.
Kemudian ditambah dengan meroketnya angka kemiskinan di negeri ini makin membuat orang akhirnya melakukan cara apapun demi mendapatkan pundi-pundi materi. Walaupun dengan cara yang haram sekalipun, mereka akan melakukannya. Ini semua karena makin mengakarnya sistem ekonomi kapitalis. Kekayaan yang ada hanya terkumpul pada segelirtir orang saja (pemilik modal). Sehingga rakyat kecil yang selalu menjadi korbannya. Mereka akhirnya rela mengorbankan dirinya demi mempertahankan kehidupan ini dan memenuhi segala macam kebutuhan jasmaninya.

Solusi Islam untuk Prostitusi


Islam sebagai agama yang sempurna, mengatur segala hal yang berkaitan dengan manusia. Baik hubungannya dengan sesama manusia, dirinya sendiri ataupun dengan Robb-nya. Sangat jelas dan gamblang Islam menjelaskannya, tertuang dalam Al Qur’an dan hadist.
Manusia Allah bekali dengan akal, hal ini yang membedakannya dengan makhluk yang lain. Artinya adalah manusia mampu memikirkan segala sesuatu yang terkait dengan persoalan hidupnya untuk kemudian mencari solusi. Ketika kita sudah berikrar bahwa saya adalah seorang hamba, mengakui Allah sebagai Robb dan Nabi Muhammad sebagai utusannya. Maka sudah selayaknya kita patuh dan tunduk terhadap segala macam aturan yang mengikat kita.
Terkait dengan persoalan prostitusi di atas, Islam mempunya solusi jitu terkait hal tersebut. Tentunya solusi ini sesuai denga fitrah dan menentramkan hat manusia. Setidaknya ada tiga aspek penyelesaian yang dalam pelaksanaannya saling bersinergi. Aspek tersebut adalah keimanan individu, kontrol masyarakat dan tegasnya negara (dari sisi hukum dan kebijakan).
Dari aspek keimanan individu, maka peran orang tua sebagai pendidik di keluarga sanagat dibutuhkan. Karena sejatinya keluarga adalah sekolah pertama anak serta membentuk keimanan dan ketaqwaan. Sinergi antara ibu dan ayah sangat diperlukan, karenanya pembagian peran dan tanggung jawab sangat dibutuhkan. Disamping itu, pemberian contoh (teladan) yang baik dari orang tua kepada anak sangat diperlukan. Sehingga, ketika anak keluar dari rumah maa akan mempunyai pondasi iman dan taqwa yang kuat. Tidak mau melakukan aktivitas yang dilarang agama.


Tak hanya cukup di keluarga, tentunya peran masyarakat diperlukan juga. Mengapa diperlukan? Jawabannya adalah karena manusia adalah makhluk social dan tidak bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Tentunya hal ini akan bersinggungan dengan orang lain. Sehingga peran dari orang lain (masyarakay) sangat diperlukan untuk menambah pondasi keimanan tadi. Ketika ada yang melakukan aktivitas di luar dari syariat islam maka menegurnya adalah usaha yang baik. Kalau dalam islam biasa disbeut dengan amar ma’ruf. Dengan begitu, yang terjadi adalah keimanan akan semakin kokoh dan budaya saling mengingatkan akan berjalan dengan baik. Akhirnya taqwa Bersama itu bisa terwujud dengan mudah.

Tak hanya dua aspek di atas saja yang diperlukan untuk mengatasi persolan prostitusi. Peran negara juga sangat dibutuhkan, karena dengan kekuasannya mampu memberikan sanksi pidana kepada para pelaku prostitusi yang telah berbuat zina. Tak hanya para pelaku namun dalang dari
aktivitas tersebut diberi hukuman juga. Hukuman di dunia bagi orang yang berzina adalah dirajam (dilempari batu) jika telah menikah. Bagi yang belum pernah menikah, hukumannya dijilid (dicambuk) seratus kali lalu diasingkan selama satu tahun. Jika di dunia ia tidak sempat mendapat hukuman tadi, maka di akhirat ia disiksa di neraka. Bagi wanita pezina, di neraka ia disiksa dalam keadaan tergantung pada payudaranya. Astagfirullah, sungguh siksaan yang begitu luar biasanya. Maka dari itulah, janganlah kita tercebur pada aktivitas hina tersebut.

Kemudian negara juga wajib mewujudkan jaminan kebutuhan hidup setiap anggota masyarakat, termasuk penyediaan lapangan pekerjaan bagi para laki-laki. Sehingga, alasan mencari nafkah tak bisa lagi digunakan untuk melegalkan seseorang untuk kembali pada dunia prostitusi. Termasuk dalam segi pendidikan, negara wajib menjamin pendidikan kepada seluruh rakyat tanpa kecuali untuk memberikan bekal keimanan, kepandaian dan keahlian. Dengan begitu, maka setiap invidu khususnya lakilaki mampu bekerja dan berkarya untuk memenuhi kebutuhan jasmani secara halal.
Terakhir, negara juga harus menerapkan kebijakan yang dilandasi syariat Islam. Harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait pelacuran. Tak boleh dibiarkan bisnis berjalan berdasar hukum permintaan dan penawaran saja. Tanpa adanya pijakan benar dan salah sesuai syariat Islam. Negara harus menutup serta menghapus semua hal atau aktivitas yang berkaitan dengan bisnis haram tersebut. Seperti menutup semua lokalisasi, menghapus situs prostitusi online dan melarang semua produksi yang memicu seks bebas seperti pornografi lewat berbagai media (baik di internet, televisi, koran atau majalah).

Negara merupakan satu-satunya institusi yang mampu menerapkan syariat Islam. Hal itu dapat terwujud hanya dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Yaitu negara yang memiliki penyelesaian prostitusi yang menerapkan kebijakan yang didasari syariat Islam. Semoga masa itu akan segera terwujud. Tentunya perlu peran seluruh kaum muslim untuk berjuang bersamaa.
Wallahu a’lam.

Labels: opini

Thanks for reading Prostitusi Subur Karena Kapitalisme-Liberalisme Mengakar. Please share...!

0 Komentar untuk "Prostitusi Subur Karena Kapitalisme-Liberalisme Mengakar"

Back To Top