Oleh : Siti Ruaida, S.Pd
Ada kasus pencabulan yang dilakukan oleh mantan kepala sekolah dengan inisial MT di Kabupaten Soppeng, Sulsel, kini MT bekerja di Dinas Pendidikan Soppeng, diduga telah mencabuli 14 anak. detikcom, Minggu (14/4/2019).
Sebelumnya ada juga kasus penganiyaan pada remaja Audrey yang dilakukan oleh siswa SMA secara berjamaah dan masih banyak lagi kasus Audrey Audrey yang lain.
Pencabulan, pembullyan, berbagai bentuk kenakalan remaja seperti pacaran, gaul bebas, aborsi, narkoba, bahkan LGBT menjadi warna-warni kehidupan generasi masa kini. Persoalan ini menjadi kasus yang kita saksikan dan dengar setiap hari. Apa gerangan akar masalah yang membelit generasi dan bagaimana solusi tuntas mengatasinya?
Padahal generasi muda adalah aset yang mahal dan tak ternilai harganya. Masa depan sebuah bangsa tentu ada ditangan mereka. Baik-buruknya juga sangat bergantung pada mereka, karena sejatinya pemuda sebagai tokoh utama dan berperan dalam melakukan suatu perubahan. Oleh sebab itu, menjadi sesuatu yang penting bagi negara untuk mengatasi kerusakan generasi.
Negara harus memiliki visi dan misi untuk menuntaskan persoalan generasi. Rencana kerjanya harus tertuju pada mewujudkan generasi yang berkualitas dengan membangun sumber daya manusia (SDM) sehingga memiliki karakter kuat dan tangguh. Sehingga akhirnya mampu untuk membentengi diri dari pengaruh paham kebebasan yang menyerangnya.
Persoalan rusaknya generasi tentu tidak bisa diselesaikan secara individu atau per keluarga. Tapi seluruh elemen masyarakat harus dilibatkan sebagai bentuk kepedulian untuk menyelesaikan dan menuntaskannya.
Di keluarga saja, karena kesibukan orangtua mengejar materi duniawi saat ini membuat anak lapar kasih sayang. Komunikasi tidak berjalan dengan baik karena jarang bertemu diantara orang tua dan anak. Padahal anak adalah amanah Allah yang harus dipertanggung jawabkan. Ditambah dengan abainya orang tua dalam penanaman aqidah sehingga anak tidak memiliki pemahaman agama yang hakiki.
Di sisi lain, pembelajaran agama yang minim dan padatnya kegiatan belajar kerap membuat peserta didik kelelahan dan stres. Disisi lain, anak tidak sempat mempelajari Islam. Itulah yang menyebabnya akhirnya anak melampiaskan dengan kegiatan atau aktivitas yang menyimpang dan tidak terkendali. Semua itu tidak lain karena lemahnya pemahaman Islam. Bisa dikatakan ini adalah faktor internal kerusakan generasi hari ini.
Adapun faktor eksternal yang perlu diwaspadai adalah serangan pemikiran berupa masuknya budaya Barat yang mereka suntikkan melalui 3 F, yaitu Food, Fun, Fashion dengan menjadikan media sosial sebagai corongnya. Hingga membuat generasi muda membebek menggunakan pemikiran dan budaya Barat. Dari sinilah terbentuk pemikiran dan pemahaman sekuler yang memang menginginkan kehancuran generasi melalui campurtangan mereka termasuk dalam penetapan kurikulum dan kebijakan pendidikan dengan alasan kerjasama bidang pendidikan, yang ternyata malah memperkeruh sistem pendidikan hingga gamang mengabadikan kebodohan dan kerusakan anak bangsa.
Kepentingan asing juga telah menjadikan generasi berada dibawah ketiak mereka. Mengikuti peradàban Barat mengemban apa yang mereka sebut sebagai nilai- nilai global yang justru menjauhkan generasi dari nilai-nilai agama. Demikianlah Bàrat menancapkan hegemoni dan eksistensinya.
Apa kabar dengan sistem pendidikan kita. Apakah sudah mampu memenuhi hak anak. Sudah ramahkah sekolah terhadap anak dengan memberikan guru yang berkualitas dan berkonsentrasi dalam mencetak generasi. Kondisi ini akan mudah didapati apabila guru tidak terbagi pikirannya dengan persoalan semisal ekonomi karena kesejahteraan guru telah dijamin oleh negara. Gaji atau kesejahteraan yang cukup, fasilitas sekolah yang memungkinkan, dan kurikulum yang tepat. Jangan sampai guru hanya disibukkan oleh administrasi yang kian menumpuk.
Selanjutnya, pemegang kebijakan dàlam hal ini negara, harus bisa memastikan apakah sudah memberikan kurikulum terbaik untuk generasi.
Jadi, negara adalah pihak yang berperan besar melindungi generasi, karena berwenang menerapkan berbagai kebijakan mulai dari politik, ekonomi, sosial, hingga pendikan. Negaralah yang menerapkan sistem pendidikan sekuler-materialistik. Hingga menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan ‘agama’ di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama ditempuh melalui jalur madrasah, institut agama dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama. Sementara pendidikan umum ditempuh melalui jalur sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan hingga perguruan tinggi umum yang dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Sistem kehidupan bernegara yang sekuler terbukti menghasilkan sistem pendidikan sekuler. Agama hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan Tuhannya saja. Sedangkan dalam kehidupan di masyarakat diatur dengan aturan yang dibuat oleh manusia dengan mengatas namakan suara terbanyak. Maka di tengah-tengah sistem sekuler tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalis, perilaku politik yang oportunis, budaya hedonis, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik. Hal inilah yang menjadi biang kehancuran generasi.
Problematika generasi ini akan bisa diselesaikan hingga ke akarnya, dengan mengganti sistem sekuler-demokrasi yang telah terbukti menjauhkan manusia dari agama dengan sistem yang membuat manusia hanya tunduk pada sang pencipta yaitu sistem Islam.
Wallahu a'lam
Penulis adalah Pengajar di MTs. P. Antasari Martapura
Labels:
opini
Thanks for reading KERUSAKAN GENERASI CERMIN KEGAGALAN DALAM PEMENUHAN HAK ANAK. Please share...!

0 Komentar untuk "KERUSAKAN GENERASI CERMIN KEGAGALAN DALAM PEMENUHAN HAK ANAK"