Speak Up Banua

Penulis Bela Islam dari Akademi Menulis Kreatif Regional Kalimantan Selatan

"Buatlah karya yang menggoncang dan bersabarlah dengan proses panjangnya."

(Founder AMK - Apu Indragiry)

Ramadan Datang, Keimanan Menjulang



Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT. Sekarang kita sudah memasuki bulan nan suci dan mulia yang dinanti oleh seluruh kaum muslim sedunia. Bulan tersebut adalah Ramadhan, yang penuh dengan ampunan, obral pahala dan ibadah-ibadah dilipat gandakan. Subhanallah, begitu luar biasa dan istimewanya bulan ini. Seandainya disuruh memilih, pastilah setiap bulan yang adalah Rumah penuh cinta. Karena saking banyaknya obral pahala tadi.
Tentunya, aktivitas-aktivitas yang ada akan dioptimalkan. Yaitu berlomba-lomba untuk melakukan amal shaleh dan meninggalkan amal salah. Puasa, melakukan ibadah sunnah, bersedekah, infak dan zakat akan mewarnai bulan nan suci ini. Semoga nantinya akan berdampak di 11 bulan kemudian. Karena sejatinya bulan Ramadhan ini hanyalah pemanasan untuk bulan-bulan berikutnya. Ibadah puasa ini wujud keimanan kita kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa (TQS al-Baqarah: 183).
Dari terjemahan surat al-Baqarah ayat 183 didapatkan bahwa Allah SWT memberikan perintah kepada orang-orang yang beriman agar mereka melakukan ibadah puasa. Ibadah tersebut akan membentuk mereka menjadi insan yang bertaqwa. Allah telah menegaskan terkait dengan apa tujuan dari ibadah puasa. Puasa akan menjadikan manusia menjadi bertaqwa. Lantas kemudian yang menjadi pertanyaannya adalah, terkadang memang masih ada saja seorang muslim tidak melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini? Apa yang menjadi penyebabnya?
Itulah mungkin gambaran pertanyaan yang sering muncul dalam benak kita. Sejatinya, ibadah puasa adalah wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh (terkena hukum). Artinya ketika seseorang sudah baligh maka akan berdosa jika tidak melaksanakannya kecuali ada alasan syar'i yang membuat dia boleh untuk tidak berpuasa. Jika masih ada yang belum mengerjakannya tanpa alasan yang syar'i maka perlu dipertanyakan kadar keimanannya. Karena jika keimanan sudah melekat serta menancap dalam diri maka tidak akan pernah membangkang terhadap apa yang Allah SWT perintahkan.
Fakta diatas bisa terjadi disebabkan oleh sistem yang belum berpihak pada kaum Muslim. Artinya sistem yang ada sekarang bukan sistem Islam. Sehingga wajar saja jika masih ada yang belum bisa melakukan ibadah-ibadah secara sempurna. Kapitalis-sekuler serta liberalisme-lah yang menjadi penyebab semua itu. Paham-paham tadi telah menggerus dengan perlahan pemahaman dari kaum Muslimin. Aqidah mereka termasuk didalamnya adalah keimanan serta ketaqwaan mudah tergeser dengan pemahaman yang telah disebutkan tadi. Berarti kaum Muslimin wajib hukumnya untuk mempunyai filter kuat agar pemahaman asing tadi tidak berpengaruh.
Manusia sebagai hamba, maka sudah selayaknya tunduk serta patuh terhadap Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Disinilah peranan aqidah Islam itu. Karena ini akan menuntun manusia untuk menjalankan seluruh aktivitasnya dalam kehidupan ini. Dengannya pula akan menggambarkan tingkah laku atau suluknya.
Lantas kemudian, tak sekedar dari individu muslim saja yang memperkuat aqidah agar mampu menjalankan ibadah tersebut. Namun, peranan masyarakat serta negara sangat diperlukan. Mengapa demikian? Karena pilar-pilar tersebut akan mengokohkan keimanan dari tiap-tiap individu muslim. Kontrol masyarakat diperlukan agar semakin mengokohkan keimanan serta saling memotivasi satu sama lain. Selain itu juga, amar maruf sangat diperlukan karena ini adalah salah satu perwujudan dari rasa sayang terhadap saudara. Mengingatkan dalam hal kebaikan itu sangat pentinh di zaman now. Karena jika kita sendiri maka yakinlah kita tak akan kuat untuk melawan semua godaan yang ada.
Karena di zaman now sistem yang diterapkan adalah bukan dari Islam sehingga membuat seorang muslim kehilangan jati dirinya. Mereka terlena bahkan terwarnai oleh sistem kapitalis-sekuler yang ada. Materi menjadi tumpuan utama bagi mereka. Sedangkan menjalankan perintah dari Allah mereka kesampingkan, apalagi jika sudah bersentuhan dengan sistem. Maka dari itulah kita perlu bersama untuk menjalankan hal-hal kebaikan yang berasal dari Islam. Jika kita bersama-sama maka insya Allah akan kuat dan mampu melaksanakannya.
Negara juga jadi penopang utama guna memperkokoh keimanan kaum muslim. Dengan tangannya maka negara mampu melakukan hal-hal yang dipandang mampu menertibkan serta mendukung suasana di bulan suci ini. Sebagai contohnya adalah, membuat aturan yang tegas terhadap para penjual serta iklan-iklan  yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Hendaknya mereka diberikan aturan ketat ketika hendak berjualan, misalnya boleh berjualan ketika bada Ashar. Memberikan sangsi yang tegas jika kedapatan ada yang masih nakal, masih menjual makanan dikala pagi harinya. Dan memberikan sangsi pula kepada para muslim yang kedapatan tidak berpuasa (tidak ada alasan untuk tidak berpuasa). Dengan begitu maka insya Allah bulan suci ini akan semakin lebih berwarna.
Semoga di bulan Ramadhan tahun ini rasa taqwa selalu melekat pada diri-diri muslim. Dan semoga kita selalu mendapatkan rahmat dari Allah sebagai wujud dari keimanan dan ketaqwaan kita padaNYa. Tentulah kita harus melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Selagi ajal belum menghampiri kita maka usaha optimal sangat diperlukan. Isilah bulan suci ini dengan aktivitas-aktivitas yang akan membuat aqwa  serta iman kita menjulang tinggi. Agar menjadi bekal di bulan-bulan berikutnya. Dan berusaha menjadi ummat yang terbaik, menggunakan Islam sebagai satu-satunya aturan yang wajib dilaksanakan. Wallahu Alam. [ ]

Mulyaningsih, S. Pt

Pemerhati Masalah Anak, Remaja dan Keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel
Labels: opini

Thanks for reading Ramadan Datang, Keimanan Menjulang. Please share...!

0 Komentar untuk "Ramadan Datang, Keimanan Menjulang"

Back To Top