Speak Up Banua

Penulis Bela Islam dari Akademi Menulis Kreatif Regional Kalimantan Selatan

"Buatlah karya yang menggoncang dan bersabarlah dengan proses panjangnya."

(Founder AMK - Apu Indragiry)

Mengembalikan Ibu Kaum Muslimin



     Oleh: Mulyaningsih, S. Pt
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel

22 Desember, erat kaitannya dengan peringatan hari ibu. Tentunya semua orang akan mempersembahkan ucapan istimewa untuk orang nomor satu dalam hidupnya. Tak lupa, hadiahpun akan disiapkan untuk menghadapi tanggal ini. Hal itu mungkin tidak saya lakukan pada ibu karena saya berpandangan semua hari adalah hari ibu, tidak mengkhususkannya. Ucapan serta doapun tak terkhusus untuk tanggal tersebut, namun dilakukan setiap hari.

Dan sekarang, sayapun telah menjadi seorang istri dan ibu. Begitu berat ternyata beban yang dipikul oleh seorang ibu. Dia harus tangguh dan kuat demi anak-anaknya. Hantaman pemikiran-pemikiran di luar islam harus bisa dia terjang agar tetap kokoh. Dan tentunya agar anak-anak mengerti Islam dan membuang jauh-jauh pemikiran di luarnya.

Kejadian demi kejadian harus dia cermati dan ikuti. Tak luput kejadian internasional juga harus dia amati. Banyak sekali fakta yang membuat hati kian sedih, miris dan marah. Pembantaian sebuah kaum yang kian hari menjadi. Itulah kiranya yang terjadi pada saudara kita di luar negeri. Tak sedikit yang harus meregang nyawa demi mempertahankan agama yang ia yakini. Sungguh luar biasa. Hati ibu mana yang tak sedih melihat begitu banyak penindasan yang dilakukan kepada kaum Muslim, apalagi yang ditujukan kepada muslimah. Tersayat-sayat itu sudah pasti, namun akankah semua kejadian tersebut bisa kita hentikan?. Akankah kaum muslim mendapatkan haknya di masa sekarang?. Sungguh, itu pertanyaan yang mudah namun sulit sekali untuk menjawabnya.

Ibu mana yang tak iba dan sedih melihat kejadian-kejadian penyiksaan tersebut. Jika yang disiksa itu adalah anaknya, apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu?

Kejadian yang menimpa saudara kita (muslim Uighur) adalah salah satu deretan dari berbagai kejadian yang telah menimpa kaum Muslim. Pada tahun 2018, mereka juga diperlakukan tidak manusiawi oleh pemerintah. Penyiksaan demi penyiksaan terus saja mereka terima dan hadapi. Tentunya semua itu tidak terlepas karena keistiqomahan mereka dalam menjaga agama Islam. Belum lagi kejadian yang menimpa kaum muslim lainnya. Ghouta pun menangis namun tak ada satu negara-pun yang turut andil perihal membantu mereka. Sebelum itu saudara kita Rohingya pun merintih dan meminta pertolongan. Namun yang terjadi dunia tetap diam membisu tak ada suara atau tindakan yang segera dilakukan oleh para penguasa kaum muslim. Duniapun seolah diam seribu bahasa, tak mampu berbuat apa-apa. Kalaupun bersuara paling hanya mengecam atau melakukan persetujuan kepada kedua belah pihak. Sungguh, bukan itu yang diminta oleh saudara-saudara kita di Xinjiang, China.


“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (TQS. Al-Maidah: 32).

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (TQS. An-Nisa: 93)

Kemudian Sabda Rasulullah Saw., “Bagi Allah, Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim.”

Masya Allah, Subhanallah, begitu mulia dan berharganya nyawa seorang Muslim. Sampai-sampai Allah Swt. sendiri berkata akan memberikan azab yang sangat pedih jika ada orang yang membunuh dengan sengaja seorang muslim. Bahkan tertuang dalam hadist Nabi yang mengatakan bahwa hancurnya dunia ini lebih ringan dari pada terbunuhnya seorang muslim. Begitu luar biasanya penjagaan Islam terhadap nyawa seorang muslim. Itulah Islam, jika ia diterapkan maka semua akan sejahtera, aman dan damai. Tak hanya m3lindungi muslim, non muslimpun akan dilindungi dan dijaga harta, jiwa serta kehormatannya.

Itulah sosok islam yang menjelma sebagai ibu bagi kaum Muslim. Ibu ibarat perisai bagi anak-anaknya. Selalu melindungi, menyayangi serta menjaga semua buah hatinya. Namun, yang terjadi pada kaum Muslim sekarang adalah kehilangan sosok ibu itu. Sehingga bak anak yang terpisah dari ibunya, bingung mau melangkah dan melakukan sesuatu. Semua itu tidak terlepas dari pemahaman barat yang merasuki pada tubuh kaum Muslim. Liberalisme dan sekulerisme telah menjadikan kaum Muslim terpisah dari ibunya. Dengan paham kebebasan (liberalisme) seakan-akan semua orang bebas demi mewujudkan tujuannya dengan cara apapun, walau melakukan hal-hal yang mungkin itu sangat keji. 

Sudah saatnya semua ibu di seluruh belahan bumi ini berpikiran yang sama. Bahwa harus membuang sistem di luar Islam.  Kemudian menerapkan syariah Islam secara sempurna dan menyeluruh. Semua itu dilakukan agar ibu dari kaum Muslim kembali hadir dalam kehidupan ini. Dan segala tindakan yang menimpa kaum Muslim akan segera terselesaikan. Akhir kata, marilah melangkah bersama, satukan tujuan (berjuang bersama) untuk mewujudkannya agar kehormatan dan nyawa kaum muslim dapat terjaga. Agar kejadian genosida tidak akan pernah terulang kembali.  

Wallahu A’lam. 
0 Komentar untuk "Mengembalikan Ibu Kaum Muslimin"

Back To Top