Oleh : Srie Ummu Roya
Ketika senja mulai temaram
Kaki nan rapuh, terseok menapaki jalan
Debu dan sampah peradaban
Beterbangan tertiup angin petang
Engkau ulurkan tangan,
Menggenggam jemari yang mulai melemah
Hadirmu, bagaikan bintang dikala malam
Memberi secercah sinar sebagai penunjuk jalan
Memberi ketenangan pada jiwa yang gersang
Memungut raga ini dari tumpukan sampah peradaban
Sahabat sejati itu,
Bukan orang yang selalu membenarkan meski diri ini salah langkah
Bukan pula orang dengan segenggam delusi
Yang sanggup menumbalkan demi ambisi duniawi
Sahabat sejati itu
Bukan Manusia sempurna tanpa cela
Namun juga bukan orang yang akan menjadikan diri ini tameng untuk menutupi kelemahannya
Sahabat sejati itu,
Laksana kepingan puzzle yang saling melengkapi
Ukhuwah yang terjalin bukan hanya sebatas manisnya pertemuan
Namun pada tulusnya doa yang dilantunkan
Menyiratkan renjana yang terpendam
Sahabat sejati itu
Akan menguatkan perjuangan
Mengokohkan azzam
Untuk menapaki Medan terjal penuh onak duri
Sampai tiba saatnya Allah memanggil kembali
Menuju peristirahatan abadi
Ketika senja mulai temaram
Kaki nan rapuh, terseok menapaki jalan
Debu dan sampah peradaban
Beterbangan tertiup angin petang
Engkau ulurkan tangan,
Menggenggam jemari yang mulai melemah
Hadirmu, bagaikan bintang dikala malam
Memberi secercah sinar sebagai penunjuk jalan
Memberi ketenangan pada jiwa yang gersang
Memungut raga ini dari tumpukan sampah peradaban
Sahabat sejati itu,
Bukan orang yang selalu membenarkan meski diri ini salah langkah
Bukan pula orang dengan segenggam delusi
Yang sanggup menumbalkan demi ambisi duniawi
Sahabat sejati itu
Bukan Manusia sempurna tanpa cela
Namun juga bukan orang yang akan menjadikan diri ini tameng untuk menutupi kelemahannya
Sahabat sejati itu,
Laksana kepingan puzzle yang saling melengkapi
Ukhuwah yang terjalin bukan hanya sebatas manisnya pertemuan
Namun pada tulusnya doa yang dilantunkan
Menyiratkan renjana yang terpendam
Sahabat sejati itu
Akan menguatkan perjuangan
Mengokohkan azzam
Untuk menapaki Medan terjal penuh onak duri
Sampai tiba saatnya Allah memanggil kembali
Menuju peristirahatan abadi
Labels:
Puisi
Thanks for reading Sahabat Sejati. Please share...!

0 Komentar untuk "Sahabat Sejati"