Oleh:
Mulyaningsih, S.Pt*
Tak terasa waktu terus bergulir dengan cepatnya. Hari ini di seluruh penjuru negeri merah putih berkibar dimana-mana. Mulai dari kantor-kantor (instansi), sekolah, rumah-rumah warga dan yang lainnya. Tak hanya itu, segudang acarapun telah disiapkan, guna menyambut tanggal sakral tersebut. Mulai lacara resmi yang terbingkai dalam upacara dan berbagai lomba-lomba. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu bahkan bapak-bapak tlomba untuk memperingati hari jadi negeri ini telah disiapkan.
Begitulah fenomena yang terjadi, setiap tahun di isi dengan aktivitas-aktivitas tersebut. Tujuh puluh empat tahun lamanya kita sudah merdeka, namun yang terjadi bangsa ini tetap saja berkutat dengan masalah-masalah itu saja. Pengangguran, kemiskinan, kriminalitas serta ketidakmerataan pembangunan. Belum lagi jika kita dalami persoalan terkait dengan remaja, tentunya segudang permasalahan akan muncul. Mulai dari tauran antar pelajar, pergaulan bebas, pemakaian narkoba, pembunuhan (baca: aborsi) dan masih ada yang lainnya. Begiru dahsyatnya persoalan yang ada di negeri ini, sampai-sampai kita terus saja berkutat padanya.
Tentulah kata merdeka belum kita dapatkan secara serius. Dominasi negara lain masih saja menempel erat pada negeri ini. akankah semua itu bisa kita selesaikan secara sempurna dan paripurna, tanpa terulang ditahun yang sama? Dan akankah dominasi bangsa asing tidak melekat ke negeri ini?
Pemahaman-pemahaman asing ternyata pemicu pada semua persoalan yang tak kunjung selesai ini. Sekulerisme, liberalisme dan kapitalisme itulah yang menjadi penyebabnya. Pemisahan agama dari kehidupan atau sekulerisme menjadi pondasi utama terbentuknya sosok individu yang akhirnya menanggalkan seluruh perintah dari Rabb nya yang kemudian akhirnya agama tidak boleh dijadikan pedoman ketika menjalani kehidupan dunia ini. Agama ibarat batu penghalang yang akan menemui manusia manakala dia akan mengarungi kehidupan. Alhasil, tatanan aturan akan kacau dan tak berwujud.
Kemudian ditambah dengan adanya paham liberalisme membuat manusia semakin berkuasa akan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. manusia bebas melakukan apa saja sekehendaknya tanpa ada Batasan yang jelas, bahkan bisa dibilang, manusia mampu membuat tata aturan yang baik untuk dirinya serta orang lain dalam hal mengurusi urusan dunia. Mereka bebas dalam memiliki segala sesuatu yang dia kehendaki (contoh menguasai sumber daya alam yang ada di negeri ini), mengeluarkan pendapat, beragama Sungguh amat berbahaya sekali pemahana-pemahaman tersebut.
Yang lebih bahaya adalah ketika gaya penjajahan tidak dapat diketahui oleh negeri ini. Lewat aktivitas utang, ternyata negeri menjadi sebuah negara yang jauh dari kemerdekaan itu sendiri. Kita disetir oleh orang atau negara yang menghutangi kita lewat berbagai kebijakan yang akan di terapkan. Tentulah kebijakan-kebijakan tersebut akan selalu merugikan pada pihak yang berhutang.
Pandangan Islam
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Mengatur seluruh persoalan manusia, baik terkait dengan Sang Pencipta, manusia lain atau dirinya sendiri. Rambu-rambunya jelas, padat dan lengkap serta bisa langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Begitupun dengan makna merdeka, Islam punya pengertian sendiri. tentunya hal tersebut tak lepas dari keimanan seorang muslim. Karena dari sinilah semua akan bersumber.
Pandangan Islam terkait dengan kemerdekaan adalah ketika kondisi manusia terbebas dari segala macam bentuk perbudakan dan penghambaan kepada sesama manusia. Dalam hal ini, Islam menginginkan agar manusia terbebas dari segala macam bentuk penjajahan, penindasan, eksploitasi, kedzoliman, penghambaan dan perbudakan yang dilakukan oleh manusia lain. Dengan begitu maka penghambaan manusia hanya kepada Rabbnya, bukan kepada manusia lain. Itulah sejatinya misi utama Islam.
Rasulullah SAW pernah menulis surat kepada penduduk Najran…Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia). (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, v/553).
Kemudian Allah berfirman “Mereka (Bani Israil) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka seagai Tuhan-Tuhan selain Allah. (TQS at-Taubah: 31)
Dari nash tersebut kita dapati bahwa Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala macam bentuk penghambaan kepada sesama manusia. Kemudian mewujudkan penghambaan tertuju hanya kepada Allah SWT. Ditambah lagi bahwa Islam datang untuk membebaskan manusia dari kesempitan dunia dan kezaliman agama serta sistem yang diakibatkan oleh penerapan aturan buatan manusia dalam kehidupan ini.
Untuk mencapai tujuan diatas tentunya hanya bisa terlaksana mana kala manusia mau mengambil aturan hukum Allah SWT dan Rasul SAW secara sempurna. Artinya mengambil serta menerapkannya syariah Islam secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari. Dan mencampakkan sistem kehidupan selain Islam. Dengan seperti itu maka kemerdekaan hakiki akan dengan mudah didapatkan dan dirasakan. Dan harus adanya kepemimpinan Islam, termasuk didalamnya adalah Imamah yang akan mewujudkan kemerdekaan tersebut. Yaitu kehidupan adil, aman, sejahtera, makmur dan tenteram. Semoga kita bisa sama-sama berjuang untuk menerapkan sistem Islam dalam kehidupan ini agar kemerdekaan mampu dirasakan semua manusia. Wallahu A’lam. [ ]
* Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif Regional Kalse
Labels:
opini
Thanks for reading Kemerdekaan Hakiki. Please share...!

0 Komentar untuk "Kemerdekaan Hakiki"