Speak Up Banua

Penulis Bela Islam dari Akademi Menulis Kreatif Regional Kalimantan Selatan

"Buatlah karya yang menggoncang dan bersabarlah dengan proses panjangnya."

(Founder AMK - Apu Indragiry)

Kembalikan Pada Islam



Oleh: Mulyaningsih, S. Pt

Banjarmasin kembali digemparkan oleh berita asusila yang melibatkan pelajar Sekolah Menengah Pertama. Komisi IV DPRD Banjarmasin memanggil Dinas Pendidikan (Disdik) untuk melakukan pertemuan di gedung dewan, akhir pekan tadi. Dalam pertemuan tersebut, ada satu poin yang ditekankan oleh anggota dewan bahwa Disdik tak boleh tinggal diam dan harus mengambil langkah agar kasus serupa tak terulang.

"Dengan adanya kasus ini, kami ingin ada peningkatan pengawasan oleh Disdik. Jangan sampai terjadi lagi," ucap Ketua Komisi IV, Matnor Ali.

Pada bagian ini, Matnor memberikan masukan. Agar Disdik tidak cuma fokus pada pendidikan formal, tapi juga akhlak. Intinya, Komisi IV tidak ingin lagi kasus itu terulang. Karena mencoreng dunia pendidikan di Banjarmasin. Apalagi kota ini sudah ditetapkan sebagai kota layak anak.

Sementara itu, Kepala Disdik Banjarmasin Totok Agus Daryanto menyebut, bahwa pihaknya sudah mengambil langkah antisipasi. Agar kasus ini tak lagi terulang. Sebagai contoh adalah program Sekolahku Baiman. Kemudian juga melaunching Sekolah Ramah Anak, yang pekan lalu telah diresmikan oleh Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina. Salah satu ciri sekolah ramah anak adalah pemenuhan terhadap hak-hak anak (bebas dari kekerasan).

Terkait soal pendidikan akhlak, Disdik berjanji akan memperkuatnya. Sekalipun sudah ada program PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) dalam Kurikulum 2013. Selain itu, Disdik juga berencana mengubah pola literasi. Yang selama ini lebih pada pengetahuan umum, dialihkan menjadi literasi Alquran. "Nah, di beberapa sekolah mulai menerapkan ini," pungkasnya. (kalsel.prokal.co, 28/10/2019).

Sungguh miris hati melihat kejadian tersebut, kian hari masalah itu kembali menguap ke daratan bak busa sabun yang semakin membumbung tinggi. Terulang dan kembali lagi,  begitu sedih dan menyesakkan dada. Lantas mengapa semua ini terus terjadi?  Apa sebenarnya yang melatarbelakanginya?

Lantas kemudian timbullah pertanyaan dalam benak kita, inikah yang kita inginkan pada generasi remaja sekarang? akankah masa depan gemilang dan kejayaan akan kembali diraih, jika kondisi kaum remajanya sangat memprihatinkan seperti gambaran di atas?


Ini merupakan potret buram dunia pendidikan sekarang. Generasi remaja sekarang hanya mementingkan permasalahan dunia semata tanpa mau berpikir untuk hari kemudian. Masalah di atas terjadi karena adanya pemahaman pemisahan antara Islam dengan masalah dunia. Itulah yang dinamakan dengan sekulerisme, yang sengaja disuburkan dan mengakar kuat pada dunia pendidikan sekarang. Bahkan hampir di seluruh negeri yang mayoritas rakyatnya beragama Islam.

Penanaman ide sekulerisme pada setiap sekolah membuat para pelajar akhirnya jauh dari al-Qur'an. Dengan begitu, yang terjadi adalah tercerabutnya ilmu dari pola pikir manusia yang berdampak pada menyingkirkan wahyu Allah sebagai dasar utama pendidikan. Jika pemikiran manusia jauh dari wahyu maka sangat berpengaruh kepada pola sikap dan kepribadiannya secara keseluruhan.

Sekulerisasi pada ilmu pengetahuan akan memfasilitasi mudahnya pemikiran-pemikiran asing masuk benak kaum terpelajar. Ditambah lagi dengan liberalisme yang bercokol subur pada generasi remaja saat ini membuat halal-haram, terpuji- tercela menjadi bias adanya. Mereka tak lagi  bersandar pada hakikat panduan hidup sebenarnya. Barat yang kemudian menjadi patokan, contoh dan sandaran mereka. Sangat nyata di depan mata kita, sebut saja dalam hal berpakaian, pergaulan perempuan dan laki-laki. Semua itu mereka contoh pada Barat. Padahal sudah jelas-jelas sangat bertentangan dengan Islam.  Sebagai contoh pergaulan yang tak ada batas antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah penghantar dari bercokolnya perbuatan asusila yang terjadi. Semua itu buah dari sistem yang diterapkan sekarang.

Fakta sejarah menyebutkan bahwa dahulu Islam pernah berjaya selama 13 abad lamanya. Kala itu semuanya maju, termasuk dalam dunia pendidikannya. Banyak dari kaum muslim yang berhasil menemukan karya-karya terbaik mereka, yang akhirnya bisa dimanfaatkan oleh manusia secara umum. Semua itu ternyata tak lepas dari adanya dukungan (peran) negara dan sistem yang mempuni. Pada saat itu, dunia pendidikan berbasis (dasar) pada aqidah Islam. Kurikulum belajar-mengajar juga berdasar pada aqidah Islam tadi. Sehingga dapat dipastikan bahwa seluruh siswa akan mempunyai pondasi  yang sama yaitu islam. Segala tindak tanduk mereka bersandar pada aqidah Islam sehingga halal-haram, terpuji dan tercela menjadi jelas adanya. Akhirnya mereka sadar dengan sendirinya jika ingin melakukan aktivitas maka harus sesuai dengan syariat. Tidak ada lagi kata pacaran atau bahkan sampai melakukan hal asusila yang lain.
Dalam Islam semua berlomba untuk berbuat yang terbaik untuk Allah dan Rasul. Menjadi kebanggan juga apabila bisa menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat bagi umat. Itulah sejatinya yang harus dilakukan oleh para pelajar. Lisan dan perbuatan mereka selalu bersandar pada islam. Mari kita kembalikan lagi peran para pelajar agar mampu menjadi penerus yang gemilang dan bercahaya. Mampu menorehkan kejayaan seperti layaknya generasi dahulu, yang rela meninggalkan semua atribut keduniawian demi memancarkan Islam ke seluruh pelosok negeri. Semoga masa itu kembali terukir dan kita rasakan bersama. Serta slam kembali mewarnai dunia dengan torehan warna nan indah dan cantik.

 Wallahu a'alam.
Labels: opini

Thanks for reading Kembalikan Pada Islam. Please share...!

0 Komentar untuk "Kembalikan Pada Islam"

Back To Top