Speak Up Banua

Penulis Bela Islam dari Akademi Menulis Kreatif Regional Kalimantan Selatan

"Buatlah karya yang menggoncang dan bersabarlah dengan proses panjangnya."

(Founder AMK - Apu Indragiry)

Keluarga Butuh Islam



            Oleh: Mulyaningsih,  S. Pt
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Member Akademi Menulis Kreatif Kalsel

Pemerintah RI melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) membuat Syarat untuk pasangan mau menikah. Aturan baru tersebut adalah sertifikasi perkawinan atau pernikahan. Nantinya diwajibkan untuk mengikuti kelas atau bimbingan pra nikah, supaya mendapat sertifikat yang selanjutnya dijadikan syarat perkawinan
Sertifikasi ini penting menjadi bekal pasangan yang hendak menikah. Sebab, melalui kelas bimbingan sertifikasi, calon suami istri akan dibekali pengetahuan seputar kesehatan alat reproduksi, penyakit-penyakit yang berbahaya yang mungkin terjadi pada pasangan suami istri dan anak, hingga masalah stunting.

Program sertifikasi perkawinan ini baru akan dimulai tahun 2020.Lamanya kelas bimbingan untuk setiap calon suami istri hingga akhirnya mendapat sertifikat yaitu tiga bulan (banjarmasin.tribunnews.com, 16/11/2019).
Membangun biduk rumah tangga memang tak mudah. Namun semua itu bisa terlaksana dengan baik jika ada pemahaman yang sama antar kedua calon pasangan suami isteri (pasutri). Dengan begitu maka visi dan misi keluarga akan dibangun dengan pondasi yang sama. Tentunya semua menginginkan sakinah,  mawaddah dan rahmah selalu ada dalam keluarga mereka. Namun, apakah dengan diadakannya pelatihan selama tiga bulan kepada calon pasutri ini kemudian dengan mudahnya membawa biduk rumah tangga ke arah yang baik?  Dengan segudang persoalan yang menumpuk di negeri ini, mampukan pasangan tersebut bertahan hanya dengan modal sertifikat pra-nikah?

Melihat kompleksnya persoalan di negeri ini, tentunya modal pelatihan selama tiga bulan tersebut amat lah sangat kurang yang ingin membangun biduk rumah tangga. Pasalnya, dari semua lini kehidupan tentunya akan merongrong bangunan rumah tangga yang akan dibangun. Salah satunya adalah sulitnya mencari pekerjaan bagi Si suami. Hal tersebut menjadi bumerang tersendiri bagi para laki-laki. Kemudian ditambah tingginya biaya hidup yang ada maka makin menjepit masyarakat secara umum. Bagaimana Si istri akan menyediakan makan yaag sehat dan bergizi untuk keluarganya kelak, jika pendapatan si suami amat minim. Sungguh miris kita melihatnya.

Mungkin itulah sederet fakta yang mewarnai negeri ini, utamanya yang akan menimpa bangunan keluarga. Itu baru dari sisi ekonomi yang akan menerpa bangunan rumah tangga manusia, belum pada sisi yang lainnya. Sebut saja dari sisi kesehatan dan pendidikan,  tentunya semua harus merogoh kocek lebih dalam guna mendapatkan fasilitas yang terbaik. Bagaimana bangunan rumah tangga bisa bertahan jika terpaan yang akan menghadangnya amatlah banyak.

Tentunya semua ini ada simpul masalahnya. Semua itu mucul akibat dari diterapkannya sistem kapitalis sekuler yang berakar kuat dalam negeri ini. Ditambah pemahaman-pemahaman asing yang tertanam jauh dalam lubuk hati kaum muslim menambah parah keadaan yang ada. Dimana sang suami sulit sekali mendapatkan pekerjaan yang layak baginya, membuat para istri akhirnya keluar untuk bekerja mencari nafkah. Sungguh ini adalah awal mula keretakan bangunan rumah tangga. Karena memang dari sisi ekonomi penyumbang angka perceraian terbesar. Bagaimana si istri akan konsentrasi penuh untuk mempersembahkan yang terbaik untuk keluarganya,  sementara dia sibuk dalam hal pekerjaannya. Belum lagi pemenuhan gizi keluarga yang akhirnya menjadi kacau sehingga muncul masalah stunting.

Sekali lagi bahwa pembekalan yang akan diberikan kepada para calon pasutri ini sama sekali belum mampu menyelesaian persoalan yang nantinya akan dihadapi. Sehingga, perlu adanya upaya mencari solusi jitu agar tak menghasilkan masalah baru yang akan muncul kemudian. Bahwa kita harus membuang jauh-jauh sistem yang diterapkan sekarang ini, kemudian mengambil Islam dan menjalankannya secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Karena hanya dengan Islam maka persoalan yang menghadang pada bangunan keluarga akan mudah diatasi. Pondasi aqidah yang kuat akan menghasilkan pola pikir dan sikap sesuai dengan Islam. Sehingga niat menikah adalah untuk beribadah pada Allah Swt. dan mencetak generasi tangguh dan kuat. Dengan begitu maka insyaAllah bangunan pernikahan tak akan goyang walau diterpa hantaman permasalahan yang bertubi-tubi. Kemudian ditambah dengan peran negara yang menyediakan serta memfasilitasi pekerjaan yang layak bagi para suami akan menambah keharmonisan keluarga. Tak hanya itu, tentunya negara juga memberikan andil dalam pemenuhan kebutuh pokok para warganya sehingga akan menciptakan suasana yang diidam-idamkan oleh semua pihak.

Sekali lagi bahwa negara harus mempunyai andilbesar dalam hal ini. Yaitu menyediakan pekerjaan yang banyak dan layak untuk para calon suami, memberikan pondasi aqidah kepada semua individu muslim. Semua itu dilakukan agar pertahanan biduk rumah tangga kaum muslim bisa tetap berdiri kokoh dan kuat. Berarti yang harus dilakukan sekarang adalah mengganti sistem yang ada dengan sistem Islam. Agar mampu mencetak generasi yang mempunyai aqidah Islam yang kuat dan mantap sehingga mampu membangun keluarga dengan baik. Sudah saatnya kita mengambil islam dan menerapkannya agar semua persoalan yang terjadi bisa dengan mudah terselesaikan.
Wallahu a'lam.

Labels: opini

Thanks for reading Keluarga Butuh Islam. Please share...!

0 Komentar untuk "Keluarga Butuh Islam"

Back To Top